Minggu, 07 Desember 2014 - 11:43:42 WIB
Masjid Sang Cipta Rasa vs Menjangan Wulung
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Budaya - Dibaca: 6286 kali

Korban selalu berjatuhan. Setiap kali usai adzan, ajal pun menjemputnya. Demikian yang terjadi di awal berdirinya Masjid Sang Cipta Rasa, pada masa penyebaran Islam di wilayah Kesultanan Cirebon. Waktu itu kesultanan dipimpin oleh Sunan Gunung Jati atau Syeh Syarif Hidayatullah yang merupakan salah satu dari Wali Songo.

Para wali bermunajat, mohon petunjuk pada Sang Khaliq. “Ya Allah, kalau keadaan ini terus terjadi niscaya orang akan segan masuk Islam”. Akhirnya, mereka mendapat petunjuk agar di kumandangkan adzan oleh tujuh orang secara bersamaan.

Petunjuk pun segera dilaksanakan, seiring dengan itu terdengar suara ledakan keras di atas masjid. Rupanya seorang sakti dan berilmu tinggi tidak menghendaki agama Islam di Cirebon. Orang itu adalah Menjangan Wulung. Sejak saat itu sampai sekarang setiap menjelang Salat Jum’at di masjid ini, adzan dikumandangkan oleh tujuh orang secara bersamaan.

Sepenggal kisah yang mengawali berdirinya Masjid SANG CIPTA RASA yang didirikan oleh Wali Songo pada masa kepemimpinan Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati di Kesultanan Cirebon sekitar abad ke XV. Mungkin hanya ada satu di dunia adzan dilakukan oleh tujuh orang secara bersamaan, selagi dalam hukum Islam tidak ada larangan ya tidak apa-apa. Masjid Sang Cipta Rasa merupakan salah satu peninggalan Syekh Syarif Hidayatulloh yang kebetulan satu- satunya dari Wali Songo yang mempunyai tahta. Sehingga, oleh para wali diberi gelar Panetep Panata Gama Rosul di tanah Sunda.

Adapun maksud Cipta Rasa karena masjid ini diciptakan untuk menumbuhkan rasa Iman. Sunan Gunung Jati, meninggalkan masjid seperti pesannya. Ingsun titip tajuk lan fakir miskin, saya titip tajuk dan fakir miskin, tajuk itu tempat beribadah, jangan tinggalkan salat, sebagai hubungan vertikal dengan Allah SWT. Fakir miskin sebagai hubungan sesama manusia atau hubungan horizontal.

Beberapa peninggalan yang masih tersisa sejak berdirinya masjid diantaranya berupa tiang tatal, sebagai penggagasnya adalah Sunan Kalijaga. Pintu sembilan dengan ukuran kecil. Adzan tujuh yaitu adzan yang dilakukan oleh tujuh orang secara bersama-sama sebelum salat Jum’at. Dlempak yaitu lampu sentir berupa bokor yang diberi sumbu dengan minyak kelapa.

Ada satu dlempak di Masjid Sang Cipta Rasa yang selalu menyala, selain untuk mengenang benda sejarah juga memberikan arti bahwa “Orang tua kita zaman dahulu dalam keadaan gelap gulita masih mau datang ke masjid”. Mengenai pintu sembilan yang ukurannya kecil mempunyai magna agar orang mau menunduk, siapa pun dia dan apapun jabatannya. Semua tidak ada artinya dihadapan Allah SWT. Sehingga, Masjid Sang Cipta Rasa tidak membeda-bedakan siapapun karena semua yang akan masuk tetap saja harus menunduk.

Tiang tatal memberikan pelajaran hidup bagi manusia, ketika masih berbentuk tatal (sisa-sisa potongan kayu) akan tanpa guna. Namun, setelah tatal-tatal itu disatukan dan membentuk sebuah pilar akhirnya mampu melengkapi pilar-pilar yang ada untuk menopang atap sebagai perwujutan dari beban kehidupan. Demikian juga dengan pendekatan para wali terhadap masyarakat waktu itu, untuk membesarkan hati masyarakat karena mereka juga memiliki kekuatan yang besar asalkan mau bersatu.

Penyatuan itu sendiri juga di rancang oleh para wali dengan memberikan tontonan berupa pagelaran wayang kulit, dan tabuhan gamelan yang enak didengar. Sehingga mampu mengundang perhatian dan menjadikan kerumunan masyarakat. Hanya dengan membaca dua kalimat syahadat, mereka dapat menikmati pertunjukan dan mendengarkan petuah-petuah rohani dari Sang Wali. Namun, sebenarnya yang terjadi waktu itu adalah penyatuan qolbu untuk memperbaiki tatanan hidup yang lebih bermagna dan bermartabat.

Akhirnya pagelaran tersebut dikenal dengan sebutan Syahadatain atau Sekaten, yang sampai sekarang tradisi budaya itu masih dijalankan dan dijaga keberadaannya. Setiap 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah (Idul Fitri dan Idul Adha) Gamelan Sekaten selalu dibunyikan.//suparjo