Rabu, 03 Desember 2014 - 14:08:30 WIB
Kentongan Karang Nanas Merambah Ke Luar Pulau Jawa
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 4890 kali

Bukan hanya laku di sekitaran Banyumas dan kota-kota besar lainnya di pulau Jawa, Calung buatan Gandi (45) juga laris dipesan sampai ke luaran pulau Jawa. Keahlian bapak satu anak warga Grumbul Wadas Malang, Desa Karang Nanas, Kecamatan Sokaraja ini diawali dari kecintaannya pada seni tradisional kentongan yang ia bentuk pada 2002 silam, dengan nama grup kentongan Elang Prabuana.

Dengan bermodalkan beberapa alat musik salah satunya angklung yang sebelumnya sengaja dibeli, ia pun berinisiatif untuk meniru dangan membuat alat musik tradisional tersebut yang kemudian ia padukan dengan beberapa alat musik lainnya seperti calung, kentongan, dan kendang.

Beranggotakan sekitar 50 orang, grup kentongan yang ia pimpin pun pernah menjuarai beberapa perlombaan di tingkat kabupaten dan tingkat Barlingmascakep. Dari situlah nama grup kentongannya semakin dikenal dan banyak di tanggap oleh masyarakat, baik di dalam maupun luaran Banyumas. Bahkan tidak sedikit orang maupun desa yang mulai memesan untuk dibuatkan satu set alat musik tradisional tersebut hingga saat ini.

Dengan bahan bambu yang dibeli dari kebun masyarakat sekitaran desanya. Dibantu beberapa orang pekerjanya, ratusanan set alat musik tradisional kentongan pun dihasilkan untuk memenuhi pesanan. Setidaknya ada dua jenis bambu yang digunakan yaitu bambu wulung dan bambu hijau.

Saat ditemui PAMOR di rumahnya, Senin (1-12-2014) lalu. Gandi menjelaskan, alat musik tradisional kentongan buatannya tidak hanya dibeli oleh masyarakat pelaku seni saja tapi banyak juga sekolahan atau pun instansi pemerintah dan swasta, bahkan tidak sedikit pula pemesan datang dari luar Jawa. Dalam menentukan nada dari masing-masing alat musik kentongan, Gading selalu menyamakannya dengan nada dasar alat musik modern seperti gitar dan orgen.

“Untuk mengetahui tinggi rendahnya nada itu terletak pada goresan pada bambu yang digunakan, semakin tinggi goresan pada bambu akan menghasilkan nada atau suara yang rendah dan sebaliknya jika goresannya rendah maka hasil nadanya akan tinggi,” jelasnya.

Adapun proses pembuatan calung bisa diselesaikan minimal 3 hari per 2 okta yang masing-masing terdiri 16 angklung yang sudah di susun menjadi nada dasar. Di sela-sela waktunya  membuat alat musik tradisional kentongan, Gandi juga diminta untuk mengajarkan cara bermain calung di beberapa sekolah dasar terdekat, Salah satunya SD Karang Klesem. Salah satu sekolah dasar yang membeli alat musik kentongan buatannya.

Kuswanto Widjiadhi (57) selaku Kepala Desa Karang Nanas mengatakan, pihaknya merasa senang dengan adanya Gandi sebagai pelaku seni yang sekaligus sebagai pembuat alat musik tradisional. Karena menurutnya semakin banyaknya pelaku seni yang memesan alat musik tradisional buatan salah satu warganya itu secara tidak langsung akan berdampak pada semakin dikenalnya nama desanya sebagai salah satu desa yang masih mempertahankan seni dan budaya asli banyumasan.//her-as