Jumat, 07 November 2014 - 09:25:55 WIB
Larungan Sesaji Di Curug Cipendok
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Tradisi - Dibaca: 2344 kali

Kamis Wage di bulan Suro (Muharram) memiliki arti penting bagi masyarakat di sekitar Curug Cipendok. Dihari itu mereka melakukan ritual larungan sesaji berupa jajanan pasar dan takir yang berisi berbagai macam makanan. Ada juga buah-buahan, kinang, rokok, bubur merah putih dan tidak ketinggalan kembang telon, minyak wangi, pengilon (kaca), dan sisir. Beberapa jenis minuman juga turut disertakan dengan menggunakan kowak (bumbung) dari bambu.

Selain larungan sesaji, seekor itik (enthok) turut dikorbankan untuk disembelih di Curug Cipendok. Pada Muharram kali ini ritual dilakukan Kamis (6/11/2014) lalu, yang dipimpin oleh Ki Amri tokoh spiritual setempat. Tradisi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitar Curug Cipendok merupakan warisan leluhur yang masih terjaga keberadaannya. Adapun maksud dilakukannya ritual tersebut tidak lain sebagai ungkapan rasa syukur dan permohonan keselamatan kepada Sang Pencipta melalui para leluhur yang bersemayam di Curug Cipendok.

Larungan sesaji atau caos dahar gondo arum juga sebagai bentuk nguri-uri budaya yang sudah dilakukan secara turun-temurun sejak nenek moyang dahulu. Selain acara larungan dan menyembelih itik (enthok) juga dilaksanakan selamatan (slametan) berupa nasi tumpeng dengan aneka lauk dan sayuran khas pedesaan. Acara tersebut hanya menyertakan beberapa warga saja mewaliki masyarakat yang lain, turut serta dalam ritual tersebut Krus Harto Kepala UPT Curug Cipendok.

Menurut Krus Harto, ritual larungan merupakan bagian dari rangkaian acara “Ruat Bumi Cipendok” yang akan digelar pada 22 November mendatang. Acara yang melibatkan seluruh masyarakat pemangku Curug Cipendoh akan dikemas dalam rangkaian kirab budaya dan gunungan.

“Sebenarnya ini merupakan salah satu rangkaian acara ruat bumi Cipendok, namun karena keputusan masyarakat puncak acaranya diadakan pada tanggal 22 nanti makanya acara larungan ini dilaksanakan terlebih dahulu,” jelasnya.

Sebagai bentuk ketaatan pada leluhur lewat tradisi yang ada, Kamis Wage telah ditentukan sebagai hari sakral untuk larungan di Curug Cipendok. Maka sekecil apaapun acara tersebut tetap dilaksanakan, meskipun acara utama baru akan digelar 22 November mendatang.//ipung.