Senin, 03 November 2014 - 10:00:26 WIB
Festival Grebeg Sura Baturraden
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Tradisi - Dibaca: 2686 kali

Gelar festival budaya “Grebeg Suran Baturraden” mengundang perhatian ribuan penonton yang datang dari berbagai daerah meramaikan area lokawisata Baturraden. Seperti acara tahun-tahun sebelumnya selain diikuti dua belas desa pemangku pariwisata, acara grebeg suran ini juga diikuti oleh beberapa kelompok masyarakat dan pedagang di lokawisata Baturraden. Para peserta arak-arakan gelar festival berjalan sekitar dua kilometer, dimulai dari Bumi Perkemahan Palawis menuju terminal atas di Lokawisata Baturraden, Minggu (2/11/2014) lalu.

 Acara yang digagas oleh Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas dan Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden ini merupakan puncak kegiatan Festival Baturraden 2014 yang ke 15. Masing-masing kelompok peserta menampilkan bentuk kreasi dan kesenian mulai dari ebeg, kentongan, calung, pakaian adat, batik dan juga ogoh-ogoh. Tidak ketinggalan pula rombongan ibu-ibu pembawa tenong, kambing kendit dan gunungan berisikan sayuran dan buah-buahan yang merupakan salah satu sarana untuk upacara ritual di petilasan (makam) Baturraden.

Suasana semakin meriah saat peserta arak-arakan mencapai garis finis di panggung kehormatan tempat Bupati Banyumas Ir. Achmad Husain beserta rombongan berada, tepatnya saat perebutan gunungan oleh para pengunjung yang menyaksikan jalannya acara grebeg suran. Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Banyumas Deskart Setyo Jatmiko mengatakan, acara festival grebeg sura Baturraden ini merupakan puncak dari acara atraksi wisata desa, dimana rentetan acaranya dimulai dengan ajang even Kompetisi Video Kampung di Wisma Kemuning, Baturraden sehari sebelum acara festival grebeg sura ini berlangsung. Ajang kompetisi Video Kampung ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan potensi pariwisata yang ada di desanya masing-masing yang diharapkan dapat meningkatkan potensi ekonomi di masing-masing desa.

“Pada dasarnya festival grebeg sura ini memang mendekatkan kepada rasa syukur pada Sang Pencipta atas segala keselamatan dan tentunya ini juga doa untuk Gunung Slamet yang sebelumnya mengalami gejolak alam,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama Jatmiko juga mengungkapkan bahwa sebenarnya bukan hanya Kecamatan Baturraden saja yang memiliki banyak potensi wisata di Banyumas, masih banyak daerah-daerah lain yang memiliki potensi wisata yang layak untuk dikembangkan.

“Untuk kedepannya kami akan mencoba berkoordinasi dengan beberapa daerah dan pihak-pihak pariwisata terkait untuk lebih meningkatkan potensi pariwisata dengan menggelar festival-festival yang sesuai dengan apa yang dimiliki dimasing-masing daerah tersebut,” jelasnya.

Selain menampilkan bermacam seni dan budaya, acara festival grebeg sura ini juga dimeriahkan oleh penampilan kesenian cowongan dari Kecamatan Karang Lewas yang cukup mendapatkan perhatian dari pengunjung yang menyaksikan rentetan acara tersebut. Titut Edi Purwanto ketua dan pemilik Padepokan Cowong Sewu pada kesempatan itu mengatakan, dirinya sangat senang sekali dilibatkan dalam acara gelar grebeg suran Baturraden yang merupakan acara budaya tahunan masyarakat se-Kecamatan Baturraden.

Menurutnya, selain sebagai promo wisata kepada masyarakat luas, grebeg suran ini juga merupakan bentuk kepedulian masyarakat setempat terhadap budaya dan pariwisata di Baturraden dan Banyumas pada umumnya. “Baturraden itu sudah menjadi icon wisata di Banyumas, sebagai pelaku seni tentunya saya merasa senang dengan dilibatkannya kesenian cowongan di festival grebeg sura ini,” ungkap Titut.

Sementara Budi Dakaryanto Pembina grup kesenian kentongan Gita Laras dari Desa Ketenger yang ikut meramaikan gelar festival budaya grebeg sura tersebut. menuturkan selain sebagai bentuk untuk melestarikan atau nguri-uri budaya, acara ini juga menjadi ajang promosi kesenian kentongan binaannya pada masyarakat luas.

Gelar festival budaya grebeg sura ini juga dimanfaatkan oleh Budi dan grup kentongannya untuk mencari rezeki dengan menghibur ribuan pengunjung yang memadati lokawisata Baturraden. Dengan memainkan beberapa lagu grup kentongan inipun berjalan keliling area lokawisata, dan tidak sedikit pula dari pengunjung yang terhibur memberikan uang alakadarnaya. “Ya lumayan sih bisa buat tambah-tambah kas kami,” ucap Budi.

Hal sama juga dilakukan oleh beberapa grup kesenian tradisiona lainnya salah satunya adalah grup kesenian kuda kepang (ebeg) Sri Kantil dari Desa Karang Tengah yang belum ada satu tahun ini berdiri. Selain untuk mencari rezeki, dengan penampilannya di acara festival maupun di lokawisata diharapkan bisa membuat nama grup ini lebih dikenal.

Di akhir acara gelar festival budaya grebeg sura bupati beserta rombongan dan panitia juga melakukan acara ritual bersama berupa kendurian dan pemotongan kurban kambing kendit di petilasan (makam) Baturraden serta dilanjutkan dengan acara pembakaran ogoh-ogoh, larungan tumpeng setra pelepasan burung dan benih ikan di sungai yang ada di dalam lokawisata Baturraden.//ipung