Jumat, 31 Oktober 2014 - 13:38:56 WIB
Sang Fenomenal Dari Sang Guru
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Budaya - Dibaca: 3566 kali

Sosok yang selalu mengenakan ikat kepala, dengan rambutnya yang kini sudah mulai memutih dan panjang sebahu. Ia juga dikenal piawai memainkan kuas pada kanvas yang menyisakan goresan-goresan bermagna, mengajak mata menembus alam batas spiritual tidak lain karena ungkapan hati sang pelukis. Dialah guru yang dikenal dengan karyanya “Sang Fenomenal” tidak lain adalah Hadi Wijaya.

Terinspirasi oleh kisah Mbah Marijan yang dengan setianya mengabdi kepada tugas dan keyakinannya menjaga Gunung Merapi untuk kepentingan orang banyak, Hadi Wijaya lewat goresannya di kanvas menciptakan seni lukis dengan judul “Sang Fenomenal”. Sebuah symbol tokoh yang sangat luar biasa, ia gambarkan lewat sebuah lukisan Brantasena.

Hadi Wijaya lahir di Desa Somakaton, Somagede, Banyumas 10 Agustus 1954. Seperti halnya Dariah Sang Maestro Lengger Lanang, Somakaton telah melahirkan seniman-seniman berbakat yang karyanya sudah dikenal luas. Setidaknya membawa nama baik Banyumas. Hadi Wijaya muda pun pernah meraih penghargaan karena karyanya masuk lima besar dan dikoleksi Dewan Kesenian Jakarta pada Pameran Pelukis Muda Indonesia di Taman Ismail Marjuki (TIM) Jakarta, 1979.  

Ditengah kesibukannya sebagai seorang guru, bagi Hadi Wijaya melukis merupakan metode terapi untuk menghilangkan rasa jenuh. Selain itu juga menjadi ajang nostalgia dari pengalaman perjalanan sosial budaya dan spiritual yang pernah dilaluinya. Karya-karya lukisannya banyak terpampang di dinding rumahnya, dari lukisan yang paling lama sampai yang terbaru.

Saat ditemui dikediamannya, Sabtu (20/9/2014) kepada PAMOR Hadi Wijaya pun menuturkan kesibukannya sebagai seorang guru yang waktunya dihabiskan untuk mengajar. Namun, naluri berkesenian sudah menjadi panggilan jiwa, dalam menciptakan karya seni Hadi Wijaya juga tidak berhenti pada materi. Melainkan lebih kepada daya kreaktif dari pantulan emosional dan intelektual.

“Lukisan itu sama saja sebuah luapan emosional atau situasi hati si pelukis yang akan tertransfer ke dalam hasil karyanya yang membawa si penikmat seni ke dalam pelancongan beragam peristiwa kemanusiaan. Walaupun tiap-tiap mata pasti akan berbeda-beda sudut pandangnya,” jelasnya.

Dalam dunia lukis, ia sendiri tidak perduli apakah hasil karyanya itu akan laku dijual atau tidak. Karena menurutnya lukisan adalah bentuk ekspresi tetapi ia berkeyakinan suatu saat hasil lukisannya pasti akan diapresiasi orang lain ataupun hanya berguna bagi keturunannya sebagai sebuah warisan.

Bakat seni lukis sudah dimiliki sejak Hadi Wijaya kecil, yang kemudian diperdalam di Sekolah Seni Rupa Indonesia di Jogjakarta. Sempat mengenyam pendidikan di IKIP Jogyakarta program D3 kemudian diangkat menjadi guru seni dan budaya SMA Negeri 1 Cilacap pada 1982. Hadi Wijaya baru meraih gelar Sarjana Pendidikan tahun 2002 melalui Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Kependidikan (STKIP) Catur Sakti, Bantul, Jogjakarta, itupun karena buka cabang di Banyumas.

Beberapa karyanya pernah terpampang di pameran-pameran besar tingkat nasional, salah satunya yang masuk lima belas besar dalam pameran Guru Nasional di Jogjakarta dan dipamerkan kembali di Kementerian Pendidikan di Jakarta pada 2013 lalu, adalah lukisan dengan judul “Sang Fenomenal”. Selain itubeberapa karyanyapun seperti bawor manages, pepelinging urip, amuk, cowongan, panorama gunung tugel, sabda alam, lumong,panorama kota lama sokaraja, dan gonjang-ganjing, juga menghiasi beberapa pameran besar nasional lainnya.//ipung