Selasa, 28 Oktober 2014 - 14:50:58 WIB
Grebeg Suran Padepokan Cowong Sewu
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Budaya - Dibaca: 3006 kali

Menyambut Tahun Baru Islam (Muharrom 1436 H) Padepokan Cowong Sewu bersama Sanggar Bambu mengadakan acara ruatan bumi Banyumas. Acara budaya bertajuk grebeg suran ini dilaksanakan di lapangan Desa Pangebatan, Kecamatan Karang Lewas, Banyumas, Sabtu (25/10/2014) lalu. Acara yang dimeriahkan oleh atraksi teatrikal lengger, genjring, ebeg dan seni lukis ini menjadi tontonan bagi masyarakat Pangebatan dan sekitarnya.

Titut Edi Purwanto ketua dan sekaligus pemilik Padepokan Cowong Sewu dalam acara tersebut mengatakan, acara budaya grebeg suran ini merupakan acara rutin tahunan yang dilaksanakan oleh Cowong Sewu sebagai bentuk pelestarian terhadap budaya Jawa. Selain itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas berkah dan keselamatan yang dianugrahkan selama satu tahun ini.

Acara yang juga dihadiri oleh Khutibul Umam Wiranu M.Hum salah satu anggota DPR RI asal Cilongok yang pada kesempatan itu mengatakan bahwa dirinya sangat mendukung adanya pentas budaya tersebut. Khutibul juga berpesan kepada seluruh masyarakat Banyumas untuk terus menjaga dan melestarikan budaya asli banyumasan.

Ritual Ruatan Bumi dilakukan dengan simbol menyiram wayang belis (setan) di tengah-tengah lapangan yang dihiasi dengan patung ogoh-ogoh dari jerami. Ruwat sendiri berarti penghancuran, dalam arti menghancurkan hal yang tidak berlaku menjadi hal yang mampu di berlakukan. Sementara itu di empat sudut lapangan penonton juga disuguhi atraksi para pelukis dari sanggar bambu. Acara yang dipadati oleh ratusan pengunjung yang terlihat sangat antusias padahal siang itu matahari sedang terik-teriknya.

Narsiti (46) salah satu warga sekitar mengatakan, sejak pagi dia dan beberapa temannya sudah berada di lapangan untuk menyaksikan grebeg suran tersebut. “Ya seneng banget lah, rame dan gratis lagi,” ucapnya malu-malu.

Selain menjadi tontonan warga masyarakat sekitar, gelar budaya grebeg suran ini juga mendatangkan rezeki bagi para penjual makanan dan minuman. Salah satunya Achmad pedagang Es dawet yang biasa menjual dagangannya keliling disekitaran Purwokerto. Tidak seperti hari-hari biasa, pada siang itu dirinya sangat senang karena dagangannya ludes terjual.

“Lumayan mas gak perlu keliling dagangannya sudah habis,” ucapnya senang. Acara yang diawali dengan arak-arakan dari Padepokan Cowong Sewu ini diakhiri dengan pementasan kesenian kuda kepang (ebeg).//ip