Sabtu, 25 Oktober 2014 - 16:54:08 WIB
JEMBLUNG
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Budaya - Dibaca: 3903 kali

Ceritane kenangapa diarani Sumpyuh, kuwe sekang kalimat Sampyuh, ketemune wong loro sing langka gathuke. Ndisite ana wong loro sing pada eyel-eyelan nganti adu kasekten ning langka sing menang langka sing kalah.

"Sapa kuwe mbah sing adu kasekten," tanya PAMOR. "Ya embuh, jenenge bae lagi njemblung," jawab Mbah Hardjo (86) seorang pelaku seni dalang jemblung saat ditemui PAMOR dirumahnya, Kamis (2/10/2014) di Desa Kemiri, Kecamatan Sumpyuh, Banyumas.

Seketika kami pun tertawa mendengar jawaban enteng Mbah Hardjo serasa tidak bersalah. Dengan sedikit terbata ia pun menjelaskan apa itu dalang jemblung. Jemblung sebenarnya gabungan dari dua kata jenjem dan gemblung, yang berarti jenjeme wong gemblung yaitu sebuah pitutur yang dilakukan dengan cara berdialog tapi terkesan seperti orang gila. "Ngomonge bener ning yen dirungokna kaya wong gemblung," tuturnya.

Dalang jemblung merupakan teater tutur khas banyumasan yang pementasannya dilakukan dengan sederhana. Teater tutur yang dimainkan oleh empat orang yaitu tiga laki-laki dan satu perempuan yang berperan sebagai sinden. Dengan mengenakan pakaian adat Jawa, mereka akan duduk mengelilingi meja yang diatasnya diberi nasi tumpeng dan ingkung ayam sebagai sarana untuk perlengkapan. Saat pementasan dalang jemblung biasanya membawa sebuah kudi kecil yang digunakan sebagai cempala atau keprak.

Berbeda dengan pementasan seni tradisional lainnya yang diiringi dengan irama alat musik tradisional, pada pementasan dalang jemblung si pemain selain berperan menjadi salah satu tokoh cerita ia juga berperan sebagai alat musik pengiring dengan cara menirukan suara-suara dari alat musik menggunakan mulutnya.

Mbah Hardjo mengatakan, meskipun dilakukan dengan sangat sederhana, pada pementasan dalang jemblung, bahasa maupun ungkapan yang dipakai juga harus bisa menggambarkan tokoh, watak, suasana dan kejadian dalam cerita. Saat pementasan biasanya juga disisipi dialog-dialog lucu yang mengundang gelak tawa penonton.

Selain harus pandai dalam bertutur dan menguasai bahasa Jawa seperti ngoko, kromo madya, maupun kromo inggil, dalang jemblung juga harus mengetahui cerita atau babad tanah Jawa pada masa lampau. Untuk penggunaan bahasa dalam pementasan biasanya Mbah Hardjo selalu melihat tempat dan penonton yang menyaksikan.

Sesaat Mbah Hardjo pun terdiam, sambil menghela nafas panjang dan tatapan matanya seperti menerawan jauh menembus alam kenangan. Sambil tersenyum Mbah Hardjo kembali bercerita tentang kebahagianya saat diundang oleh anak-anak muda untuk tampil disebuah acara di Purwokerto. Mungkin itu menjadi pentas yang terakhir bagi Mbah Hardjo.

"Gemiyen ana bocah-bocah enom sekang Purwokerto sing goleti ngeneh, nanggap kon dalang nang Purwokerto, wis jan pokoke rame pisan," kenangnya. Sepertinya Mbah Hardjo sangat terkesan dengan acara tersebut.

PAMOR tanggap dengan acara yang dimaksud Mbah Hardjo, PURWOKERTO BERSATU (Puber) Rongewutelulas (2013) atau setahun yang lalu yang digelar di Taman Rekreasi Andang Pangrenan (TRAP). Acara yang dipelopori oleh kumpulan berbagai komunitas yang ada di Puwokerto.

Memang kondisi Mbah Hardjo yang semakin tua dan mengalami banyak perubahan terutama dari daya ingatannya. Beberapa kali ia mengulang pertanyaan yang sama pada PAMOR tentang tujuan kehadiran kami. Meskipun setiap kali dijawab dengan jawaban yang sama pula. Menurut Mbah Hardjo putri (istrinya) karena usianya yang semakin tua pendengarannya juga sudah berkurang. Sehingga Mbah putri lah yang banyak menceritakan perjalanan hidup suaminya yang pernah menjadi dalang jembung kenamaan di masanya.

Menurutnya, sebagai pelaku seni yang sudah malang melintang sejak tahun 1941, nama dalang jemblung Hardjo Prayitno atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Parman ini sangat dikenal dikalangan masyarakat baik dalam maupun di luaran Banyumas hingga tahun enam puluhan. Bahkan tidak jarang pula sebagai dalang jembung Mbah Hardjo pentas di beberapa kota besar seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya.

"Ndisit tanggapan maring Jakarta wis biasa dilakoni, kadang malah nganti sewulan," ucapnya. "Tapi kuwe kan ndisit, siki ngendi ana sing gelem nonton wong jemblung," imbuhnya.

Dalang jemblung kini mulai meredup, tinggal menunggu waktu saja untuk hilang ditelan zaman. Kesenian khas Banyumas yang membesarkan nama Mbah Hardjo sebagai dalang jemblung di masanya semakin hilang dari perhatian masyarakat. Entah ada atau tiada generasi yang mau melanjutkan demi kelangsungan "Jemblung".//ipung