Sabtu, 25 Oktober 2014 - 13:11:44 WIB
Mahalnya PENDIDIKAN Di Karang Jambe
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 2829 kali

Pagi itu cuaca di Karang Jambe terasa dingin dan berkabut, meski sang surya belum terlihat jelas karena terhalang pepohonan, tapi cahanyanya sudah terpancar diantara dedaunan yang basah oleh air dari sisa hujan yang mengguyur semalam, Jumat (17/10/2014) lalu. Suasana pagi yang sudah dinantikan PAMOR untuk melihat aktifitas masyarakat di Grumbul Karang Jambe yang hendak menjual berbagai barang dagangan ke pasar di kota kecamatan. Grumbul Karang Jambe terletak di Desa Watu Agung, Kecamatan Tambak, Banyumas.

Masyarakat Karang Jambe biasanya menjual berbagai macam barang dagangannya ke Pasar Tambak hanya sekali dalam seminggu yaitu setiap hari Jumat. Dengan menumpang truk yang menjadi satu-satunya alat trasportasi yang dapat menjangkau daerah tersebut, dengan ongkos dua puluh ribu rupiah per orang untuk pulang pergi. Barang dagangan seperti gula kelapa dan berbagai hasil bumi seperti kayu bakar, talas (lumbu), kapulaga, hingga daun cengkeh (kleang) menjadi barang bawaan masyarakat setempat.

Moment yang tidak terlewatkan bagi masyarakat untuk menjual barang dagangan ke pasar dan belanja bahan kebutuhan pokok sehari-hari saat pulangnya.  Jika melewatkan moment yang satu ini maka bisa dibayangkan kesulitan yang akan dijumpai yang berarti menunggu Jumat berikutnya. Kalaupun berangkat sendiri tentu tidak sebanding dengan biaya transportasinya, karena tidak ada angkutan umum selain truk di hari itu. Satu-satunya akses penghubung dari grumbul ke desa ditempuh melalui jalan dengan pengeras dari batu kali yang tidak beraturan. Stuktur jalan yang bergelombang serta licin jika sedang turun hujan menjadi sulit atau bahkan tidak dapat dilalui oleh kendaraan selain truk atau jenis kendaraan tinggi.

Selain truk, sepeda motor juga banyak digunakan sebagai alat transportasi. Namun, kembali lagi jika musim hujan pengendara pun tidak berani berboncengan atau membawa barang  karena licin dan sangat beresiko. Hal inilah yang sebenarnya juga menghambat ekonomi dan pendidikan bagi masyarakat di Grumbul Karang Jambe yang dihuni 97 kepala keluarga yang terbagi menjadi 2 rukun tetangga (RT). Belum lagi grumbul-grumbul lain yang jaraknya lebih jauh kedalam lagi.

Sebagai daerah penghasil gula merah, kapulaga, dan daun sirih yang menjadi komoditas utamanya, masyarakat Karang Jambe juga dikenal memiliki semangat kerja yang tinggi. Di sela waktunya sebagai penderes, menyadap pinus milik perhutani menjadi pekerjaan sambilannya. Mereka juga tidak melewatkan kesempatan untuk menanam kapulaga dan daun sirih disekitar pohon pinus garapannya. Tanaman cengkeh yang tumbuh subur pun tidak terlewatkan untuk diambil manfaatnya sekalipun hanya daun-daun keringnya (kleyang).

Dari segi pendidikan, anak-anak di Grumbul Karang Jambe sangat memprihatinkan. Penyebabnya tidak lain karena akses menuju sekolahan yang jauh dan sulit, apalagi bagi anak-anak usia sekolah dasar. Dengan menempuh jarak sekitar empat kilometer untuk  sampai ke sekolahan, menempuh jalanan batu yang terjal dan curam menembus hutan pinus dengan sisi jalan berupa tebing dan jurang. Bila musim hujan tiba, banyak orang tua yang tidak berani melepas anak-anaknya berangkat sekolah karena jalanannya yang licin.   

Rohmat Supriadi salah satu guru Sekolah Dasar Negeri Siwarak Kulon mengatakan, 25 persen dari total siswa dan siswi Sekolah Dasar Negeri Siwarak Kulon merupakan anak-anak dari Grumbul Karang Jambe. Makanya pihak sekolahan memberikan kelonggaran jika mereka terlambat masuk, terlebih pada saat-saat musim hujan seperti sekarang ini. Meskipun hal itu juga sangat mengganggu belajar anak-anak karena tidak sedikit waktu yang terlewatkan.

Menurutnya sebagai daerah yang letaknya paling ujung, Sekolah Dasar Negeri Siwarak Kulon sampai saat ini belum memiliki prestasi. Banyak faktor yang menghambat proses belajar mengajar di sekolahan. Selain jam masuk yang sering mundur karena banyak anak-anak yang terlambat, rata-rata setiap tahun ajaran baru anak-anak yang mendaftar sama sekali belum mengetahui huruf maupun angka. Jadi mereka benar-benar masih nol semua.

“Di daerah sekitarnya Siwarak sampai saat ini belum ada Taman Kanak-Kanak, jadi yang masuk di sekolah dasar  benar-benar masih nol, belum tau huruf dan angka,” ungkapnya.

Rohmat juga mengatakan bahwa limapuluh sampai enempuluh persen anak didik di SD tempat dia mengajar, setelah lulus tidak meneruskan pendidikan ke tingkat SLTP. Karena jarak tempuh untuk sekolah di SLTP itu terlalu jauh yang mencapai hampir tigabelas kilometer dari Grumbul Siwarak tempat sekolah dasar itu berada. Apalagi dari grumbul lain yang keberadaanya lebih dalam lagi.

Senada dengan Rohmat, Edi (30) pemuda setempat (Grumbul Karang Jambe) menambahkan bahwa pendidikan di Grumbul Karang Jambe bisa dikatakan mahal, karena memang susah untuk didapat. “Di grumbul ini ada puluhan anak yang tidak selesai sekolah dasar bahkan ada yang tidak sekolah sama sekali,” ungkap Edi. Penyebabnya antara lain karena jalan penghubung dari grumbul ke desa yang sulit dilalui kendaraan bermotor sehingga jarak tempuhnya pun terasa jauh. Selain itu kesadaran orang tua pada pendidikan anak masih sangat rendah.//ipung