Sabtu, 25 Oktober 2014 - 08:26:44 WIB
ATAP WELIT ( Khas & Kondisi) di Grumbul Banjaran
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Tradisi - Dibaca: 5948 kali

Menyusuri jalan berbatu yang terjar dan berliku disebuah perkampungan yang mayoritas masyarakatnya bermatapencaharian sebagai penderes. Tampak nyiur dan gembulung tumbuh subur diantara pepohonan khas daerah pegunungan lainnya.

Rumah-rumah berdinding kayu dan bilik serta beratap welit sudah menjadi pemandangan umum disana. Hanya beberapa rumah saja yang berdinding batu atau permanen dan bisa dihitung dengan jari. Pemandangan ini dijumpai PAMOR di Grumbul Banjaran, Desa Banjar Penepen, Kecamatan Sumpyuh, Banyumas, Rabu (17/9/2014) lalu.

Siang itu dari dapur Misnem (52) warga Grumbul Banjaran terlihat asap putih mengepul dari tungku yang keluar melalui celah-celah bilik membawa aroma segar rebusan air nira. Sambil sesekali tangannya memasukan kayu bakar menjaga api tetap menyala. Aktifitas inilah yang setiap hari dilakukan oleh kaum perempuan di Grumbul Banjaran, mereka mengolah nira hasil sadapan sang suami menjadi gula. Sementara disela-sela waktunya sebagai penderes banyak dimanfaatkan untuk membuat welit dari daun gembulung yang tumbuh subur disekitar rumahnya. Dengan penghasilan rata-rata lima kilogram gula merah per hari, menuntut kreatifitas lain yang mempunyai nilai ekonomi.

Keselarasan antara alam dan penghuninya nampak begitu jelas di Grumbul Banjara. Antara lain dari letak keberadaannya di lereng pegunungan Kendeng, lalu mata pencaharian masyarakatnya, dan tanaman yang banyak tumbuh disana. Mengingat cuaca pegunungan Kendeng yang pada siang hari cukup terik lalu malam harinya selalu diselimuti udara dingin, menuntut masyarakat untuk dapat membuat hunian yang mampu menyiasati alam dengan tumbuh-tumbuhan yang disediakan alam pula. Demikian para leluhur telah mewariskan dengan rumah berdinding kayu dan bilik serta beratap welit tidak lain untuk menciptakan suasana yang nyaman dan tahan terhadap cuaca yang ada.

Seperti diungkapkan oleh Ki Mad Solehah (90) warga setempat, bahwa rumah berdindin kayu dan bilik serta beratap welit dirasa lebih nyaman karena dapat menetralisir cuaca. Siang jadi tidak terlalu terik dan malamnyapun tidak terlalu dingin. Menurutnya leluhur yang telah melewati kehidupan sebelumnya lebih paham dengan kondisi alam tempat mereka berada. Sehingga tidak mengherankan jika banyak tumbuh pohon kelapa, gembulung, dan bambu untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Tinggal bagaimana melestarikan serta memanfaatkannya untuk kehidupan sehari-hari.

Hal senada juga diungkapkan oleh Miarso (60) tentang kehidupan masyarakat yang kesehariannya sebagai penderes, jika tidak mensyukuri dan menggunakan yang sudah tersedia di alam tentu akan kerepotan ekonominya. Mengingat penghasilan sebagai penderes setiap harinya rata-rata lima sampai enam kilogram gula merah, belum lagi kehidupan saat ini yang mendorong untuk mengikuti laju modernisasi misalnya dengan menggunakan kendaraan bermotor dan telephone genggam (HP).

Memang diakui menggunakan atap welit tidak seawet atap pabrikan seperti genteng, asbes, atau seng karena menggunakan welit setiap empat tahun sekali harus diganti. Namun, ada hal lain yang sebenarnya lebih mengunggulkan welit selain nilai ekonominya. Tak sekedar tersedia dan bisa dibuat sendiri, atap welit dapat mencegah kondensasi terutama pada siang hari yang terik, dengan welit tidak ada tetesan-tetesan air bercampur kotoran dari langit-langit rumah (ngiler istilah setempatnya). Untuk itulah pohon gembulung seperti menjadi tanaman yang wajib dimiliki setiap keluarga, minimalnya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Menganyam welit sudah menjadi keahlian khas masyarakat di Grumbul Banjaran. Welit bisa lebih awet bila digunakan untuk atap dapur yang setiap harinya terkena asap dari pembakaran kayu di tungku. Demikian welit sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Grumbul Banjaran selain nyaman untuk bernaung juga memberikan nilai ekonomi.

Tidak sekedar memenuhi kebutuhan sendiri, menjual welit atau yang masih dalam bentuk daun gembulung juga kerap dilakukan warga sebagai tambahan penghasilan. Seperti yang dijalani Sukirman yang lebih dikenal dengan nama Mudin (59) setiap harinya berprofesi sebagai perajin welit. Welit buatan Mudin banyak dibeli oleh orang-orang dari luar daerah, yang umumnya dipergunakan untuk atap peternakan ayam. Daun gembulung sebagai bahan dasar welit dibeli oleh Mudin dari warga sekitar. Tak jarang pula jika sedang menerima pesanan dalam jumlah yang besar, Mudin selalu melibatkan masyarakat di Grumbul Banjaran untuk membuat welit guna memenuhi pesanannya. Harga welit yang dijual berkisar tiga ribu hingga tiga ribu limaratus rupiah per anyaman, tergantung seberapa banyak pembeliannya.

Potret kehidupan masyarakat di Grumbul Banjaran tak lepas dari nilai-nilai tradisi dan budaya yang diturunkan leluhurnya terdahulu. Meskipun dengan pendekatan ekonomi daerah ini termasuk tertinggal bila dilihat dari struktur jalan, perumahan warga, dan tingkat pendidikan generasi mudanya yang sebatas lulusan SLTP. Walaupun saat ini sudah mulai ada generasinya yang sedang mengenyam pendidikan di SLTA, itupun dengan latar belakang di keluarganya ada yang merantau ke kota-kota besar atau menjadi TKI ke luar negeri yang turut menopang ekonominya. Perbedaan memang begitu menyolok pada mereka yang menggantungkan hidup kesehariannya di kampung, yaitu kesederhanaan yang lebih menonjol. Sementara warga yang sanak keluarganya merantau ke luar negeri, biasanya bangunan rumahnya lebih permanen dan sedikit menggunakan atap welit. Menyikapi daerah seperti Grumbul Banjaran tentunya tidak menggunakan pendekatan ekonomi saja, pendekatan dan strategi budaya pun perlu dilakukan mengingat letak geografis dan kultur budayanya.

Setiap daerah memiliki potensi alam yang mungkin tidak dimiliki oleh daerah lain. Kelemahannya biasanya pada upaya memberdayakan dan menjaga potensi tersebut, apalagi sikap sinis yang diperlihatkan ketika melihat potensinya hanya sebatas daun nipah atau gembulung. Padahal budaya sudah menunjukan keunggulannya saat dijadikan atap rumah. Leluhur pun sudah mewariskan keterampilan menganyam kulit pelepah gembulung, tinggal bagaimana mengembangkan kreasi sehingga memiliki nilai seni dan memberi manfaat ekonomi. Hal ini tidak bisa dilakukan hanya oleh masyarakatnya sendiri, sedangkan untuk kelangsungan hidup saja mereka sudah menghabiskan waktu setiap harinya. Lalu siapa yang semestinya tersentuh? jawabannya ada pada mereka yang masih memiliki moralitas dan merasa turut bertanggung jawab terhadap masyarakatnya./sp-ipung