Sabtu, 25 Oktober 2014 - 08:21:54 WIB
Air Asin Dan Getah Pinus di Grumbul Ciuyah
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 2624 kali

Air garam yang asin tidak hanya dijumpai dilautan saja, ada juga air asin yang keluar dari sumber mata air yang berada di daerah perbukitan tepatnya di Grumbul Ciuyah, Desa Cionje, Kecamatan Gumelar, Banyumas. Keberadaan sumber air asin tersebut juga melatarbelakangi nama Grumbul Ciuyah yang berarti air garam, (garam dalam bahasa Jawa disebut uyah). PAMOR berkesempatan mengunjungi tempat tersebut didampingi Suyono salah seorang warga dan Sudirman dari Babinsa setempat, Kamis (25/9/2014) lalu.

Grumbul Ciuyah berada di pingiran bukit hutan pinus milik perhutani, sementara sumber mata air asinnya terletak tidak jauh dari pemukiman warga. Air itu keluar dari kubangan batu dengan diameter sekitar tiga puluh sentimeter. Dari celah-celah batu nampak gelembung-gelembung air yang menandakan keluarnya sumber air. Hingga saat ini masyarakat sekitar masih memanfaatkan sumber air asin Ciuyah untuk ngasini yaitu tradisi memberikan air garam pada hewan ternak. Tradisi yang sudah ada sejak leluhurnya dahulu yang memanfaatkan air garam dari sumber mata air asin Ciuyah. Konon tradisi ini dilakukan dengan cara membawa ternak peliharaannya ke sumber mata air asin tersebut. Namun, sekarang warga hanya mengambil airnya saja lalu memberikan pada ternak peliharaannya di kandang.

Menurut Suyono selain untuk tradisi ngasini, air asin yang keluar dari sumber mata air Ciuyah dulunya juga pernah dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk membuat garam. Hal senada juga disampaikan Mbah Sukrio (90) tetangganya, yang menambahkan bahwa sampai sekarang ini tinggal tradisi ngasini yang masih dilakukan oleh warga sekitar. Seperti yang dilakukan oleh Kusmi (38) yang setiap dua hari sekali memberikan air minum untuk kambingnya dengan air asin dari sumber mata air asin Ciuyah. Dari penuturan warga sumber mata air tersebut juga tidak pernah kekeringan meskipun sedang kemarau panjang.

Bagi masyarakat Grumbul Ciuyah yang mayoritas bermatapencaharian sebagai buruh tani, keberadaan sumber mata air asin sangat bermanfaat terutama untuk hewan ternaknya. Karena hewan ternak ibarat harta simpanan yang jika dirawat dengan baik dapat terus berkembang biak dan sewaktu-waktu bisa dijual jika ada kebutuhan mendesak. Selain sebagai buruh tani, kebanyakan masyarakat di Grumbul Ciuyah bekerja sambilan sebagai penyadap getah pinus di hutan pinus milik perhutani. Seperti yang dijalani oleh Tasmudi Cartam (55) yang mendapat garapan limaratus pohon pinus dari perhutani. Setiap dua minggu sekali Tasmudi mampu mengumpulkan sedikitnya seratus kilogram getah pinus, dijual ke pengepul (koperasi) dengan harga perkilonya duaribu delapanratus enampuluh rupiah.

Seprofesi dengan Tasmudi, Saryo (32) yang mendapat garapan empat ratus pohon pinus juga menjual hasil sadapannya ke pengepul (koperasi) setiap dua minggu sekali. Selain mengambil getahnya, lahan kosong disekitar pohon pinus juga bisa dimanfaatkan oleh penggarap untuk bercocoktanam. Kebanyakan para penggarap memanfaatkannya untuk menanam kapulaga yang hasilnya sepenuhnya untuk penggarap. Saryo menuturkan cara menyadap getah pinus dengan cara membuat sayatan pada batang pohon secara vertical sedalam lima sampai tujuh sentimeter. Pada bagian bawah sayatan diberi wadah untuk menampung getahnya. Setiap tiga hari sekali sayatan harus diperbarui agar getah tetap keluar dan pori-pori tidak tertutup getah yang mengering.    

Menurut Subiyanto Ketua LMDH (lembaga masyarakat desa hutan) Cionje, luas wilayah hutan pinus di Desa Cionje sekitar lima ratus tujuh puluh enam hektar, yang setiap bulannya menghasilkan sekitar tiga puluh ton getah pinus. Sedangkan penyadap dari grumbul Ciuyah ada sekitar seratus tiga puluh orang dari duaratus limapuluh kepala keluarga. Masing-masing penyadap menerima lahan sadapan (garapan) dari pihak perhutani sesuai dengan ketentuan LMDH yang bekerja sama dengan pihak perhutani.//ipung