Sabtu, 25 Oktober 2014 - 08:18:28 WIB
Kesenian Tradisional Yang Semakin Tertinggal
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Budaya - Dibaca: 2737 kali

Alunan suara angklung berpadu hentakan kendang mengiringi nyanyian campursari yang dilantunkan mendayu dari sebelah warung di pinggir jalan raya. Irama khas tradisional itu sontak menarik perhatian orang disekelilingnya, tidak terkecuali kawan-kawan di kantor redaksi PAMOR yang berjarak sekitar dua ratus meter. Rasa penasaran itulah yang mendorong untuk memanggil kedua musisi tradisional untuk unjuk kebolehannya yang cukup menghibur waktu itu, Sabtu (20/9/2014).

Bepiawaian Taram (65) memainkan alat musik angklung sembari menyanyi beberapa lagu campursari mempertunjukan ekspresi seninya. Didukung Diro (27) yang memainkan kendang menyempurnakan irama yang ada, keduanya tampak sama-sama menguasai alat musik yang dimainkan. Menjadi pengamen bukanlah pilihan utamanya, selain mengisi waktu yang bermanfaat dengan berkesenian juga untuk mempromosikan grup musik tradisional bentukannya. Berharap masyarakat luas bisa terhibur dengan kehadiran kedua seniman tersebut kemudian mau mengundang untuk mengisi acara pesta atau hajatan, tentu mereka akan hadir bersama rekan-rekan se-grupnya.

Keberadaan kesenian tradisional sudah semakin memprihatinkan tak sekedar sepi tanggapan, rasa keingintahuan masyarakatpun semakin berkurang terutama pada generasi muda. Tekanan gaya hidup modern yang memaksa pelaku seni tradisional untuk berjalan tertatih hanya sekedar untuk menjaga keberadaannya. Mungkin karena minimnya inovasi dan tidak menampung ekspresi generasi muda saat ini sehingga kesenian tradisional menjadi kurang diminati. Disisi lain pola kehidupan masyarakat di daerah semakin menunjukan arah perubahannya pada kehidupan perkotaan yang bernuansa metropolitan lalu segala sesuatunya dikemas secara instan dan modern. Misalnya pada pesta pernikahan dan hajatan keluarga. Hal inilah yang semakin menjauhkan seni musik tradisional dari masyarakat, bahkan daerah tempat kesenian itu berasal.

Kesenian tradisional bisa diterima di masyarakat ketika kehadirannya yang spontan dengan ekspresi apa adanya. Hal itu hanya bisa dilakukan di jalanan dan tempat-tempat keramaian sambil berharap pada kepedulian mereka yang kebetulan menyaksikannya. Imbalan pun akan berjatuhan di kotak yang disediakan sebagai bentuk perhatian dari pentas yang dipertunjukan. Entah rasa kasihan atau benar-benar mengaguni kesenian tradisional tidak terlalu berarti bagi pelaku seni. Karena ekspresi yang sebenarnya adalah luapan emosi yang tersalurkan lewat alat musik tradisionalnya yang menjadi perhatian penonton.

Sedikit perhatian akan sangat berarti bagi mereka yang dilahirkan sebagai seniman dari kesenian tradisional. Setidaknya dapat menumbuhkan harapan baru pada keberlangsungan seni yang dilahirkan oleh kebudayaan lokal. Padahal kesenian itu dulunya hadir sebagai unkapan rasa syukur atas kemakmuran yang telah dicapai. Namun, saat ini kesenian itu menjadi kehilangan arti oleh masyarakat yang lebih menyukai kemakmuran semu.//sp