Selasa, 01 April 2014 - 17:31:36 WIB
Dariah "Maestro Lengger Lanang Banyumasan"
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 22726 kali

Sapa nyana.. Sapa nyana.., Krungu lagu Banyumasan.., Wiwit kuna uwis ana, Lagune ra sepira’a…..Wiwit kuna, wiwit kuna, uwis ana, nganti joget ora krasa…

Demikian salah satu tembang parikan yang dinyanyikan oleh Dariah sang maestro lengger lanang saat ditemui PAMOR, dikediamannya di Grumbul Gelaran, Desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Senin (31/03/2014).

Dariah yang bernama asli Sadam meskipun berjenis kelamin laki-laki, sejak masih kecil memang suka berlenggak-lenggok seperti seorang lengger sembari menyanyikan tembang-tembang Jawa. Darah seni yang mengalir dalam pria kelahiran Banyumas 31 Desember 1928 dari neneknya yang juga berprofesi sebagai seorang lengger, inilah yang membuat dirinya bertekad untuk menjadi seorang lengger.

Dengan sedikit terbata karena usianya yang sudah tua Dariah pun bercerita perihal awal mula perjalanan hidup sebagai seorang lengger yaitu ketika masa penjajahan Jepang atau menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Konon sebagai anak seorang petani keci yang hidup penuh dengan kesengsaraan, Sadam kecil pun bermaksud ingin mencari sebuah penghidupan baru yaitu sebagai seorang lengger, untuk mencapai keinginannya tersebut Sadam kecil inipun pergi meninggalkan rumah tanpa pamit kepada orang tua dan keluarganya berjalan menelusuri jalan Banyumas-Banjarnegara.

Saat di tanya berapa lama serta kemana saja perjalanannya saat itu Dariah pun mengaku sudah tidak ingat lagi. Menurutnya, hal yang masih di ingatnya yaitu ketika dirinya sampai disebuah pekuburan tua yang ada patung perempuan yang sedang menari serta banyak sekali bebatuan yang berbentuk lonjong yang akhirnya ia ketahui tempat tersebut adalah sebuah punden yang bernama Panembahan Lengger, Desa Gandatapa, Sumbang, Banyumas, dari situlah awal mula perjalanan Sadam menjadi lengger dan berganti nama menjadi Dariah.

Menurutnya, nama Dariah sendiri sebenarnya hanya sebutan di panggung saja saat menari lengger. Namun, lama kelamaan nama Dariah pun menjadi nama panggilannya hingga saat ini.

Dariah gur jeneng karan pas pertama nari (nama Dariah hanya nama karangan ketika pertama kali pentas nari,” tuturnya.

Lelaki yang sampai sekarang selalu mengenakan kain dan kebaya ini juga mengatakan, saat perjalanan pulang setelah selesai bertapa di Panembahan Lengger,  dirinya pun mampir ke-Purwokerto untuk membeli beberapa perlengkapan lengger yaitu sebuah selendang dan gelung brongsong.

Sekembali ke desanya, Dariah yang saat itu masih bernama Sadam pun memantapkan diri menjadi penari lengger dan selang beberapa bulan nama Dariah langsung moncer sebagai primadona lengger. Dia ditanggap di berbagai hajatan terutama yang digelar orang-orang terpandang kala itu.

Mbah Wasilah, adik Dariah yang turut menemui PAMOR mengatakan, kejayaan lengger Dariah itu sempat terhenti pada tahun 1965 yaitu saat meletusnya gerakan 30 September, dimana ketika itu banyak sekali pelaku-pelaku seni yang di tangkap oleh pemerintah. Saat lengger dilarang pentas, Dariah menjadi perias pengantin atau sering disebut dukun manten.

Dariah bagi masyarakat seni di Banyumas bukanlah nama asing. Dia dikenal sebagai lengger lanang Banyumas yang tetap menjaga eksistensinya sebagai penari lengger sepanjang hayatnya.

Mendapatkan penghargaan sebagai maestro lengger lanang oleh presiden pada 2011  memang membuat dia bangga, namun perasaan bangga itu tidak seperti ketika ia pentas di atas panggung, dengan langkah tertatih ia pun mulai menari. “Megat megot… Megat megot… megat megot… Jebule kaya wong gila”  Terusnya menyanyi sembari menggerakkan tangan dan slendang merah yang ia kenakan.//ipung