Selasa, 25 Maret 2014 - 10:59:08 WIB
Menumbuhkan Kembali Rasa Nasionalisme
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Berita Kota - Dibaca: 8579 kali

Pola kehidupan golongan masyarakat, remaja atau generasi muda yang kurang mencerminkan nilai-nilai Pancasila adalah kesalahan pendidikan dalam mendidik generasi muda bangsa, selain itu tradisi hidup materialistik juga menjadi orientasi utama pada generasi muda saat ini. Ungkap DR. KH. Moh. Roqib, M. Ag Direktur Pasca Sarjana STAIN Purwokerto saat ditemui di kediamannya.

Menurutnya, dari orientasi itu maka kalau ada yang berbicara tentang kebangsaan, nasionalisme, lambang negara, bendera dan lain-lain yang sehubungan dengan kebangsaan bagi mereka suatu yang dalam tanda tanya dan dianggap tidak riil. Riil bagi mereka adalah bentuk yang bisa memberikan sumbangsih material “masa depan”. Semantara idealisme yang selalu digembar gemborkan oleh tokoh memang dibenarkan tetapi tidak membuat mereka tertarik.

“Dalam teori kehidupan masyarakat, yang dianggap penting oleh mereka akan didekati dan berusaha untuk memelajari tapi jika sesuatu yang tidak dianggap penting dan berguna bagi kehidupan, mereka akan enggan mendekat apalagi berusaha untuk mengamalkan nilai-nilainya dan ini memang pengaruh dari kesalahan cara pendidikan kita dalam mendidik generasi muda bangsa,” jelsanya.

Menurutnya, memaknai wawasan kebangsaan dalam konteks Islam adalah Hubbul Wathon Minal Iman”yaitu cinta tanah air sebagian dari iman. Jadi kalau seseorang itu tidak memiliki rasa cinta kepada tanah air atau kepada tanah tumpah darah, dia tidak akan berusaha memiliki wawasan apapun tentang bangsa, wawasan tentang kekayaan negerinya, keistimewaan-keistimewaan bangsa, kebanggaan-kebanggaan yang terkait dengan negaranya termasuk dengan Pancasila. Karena yang mereka pikirkan hanyalah bisa hidup dan makan.

Dijelaskan bahwa pendekatan-pendekatan yang diterapkan oleh pemerintah dalam mensosialisasikan wawasan kebangsaan pada generasi muda dengan cara legal formal dan di ikat dengan kebijakan-kebijakan yang serba formal merupakan sebuah pendekatan yang dirasa kurang efektif, mengingat diluar juga ada orang atau golongan yang sebenarnya juga memiliki sifat nasionalisme yang bagus.

Di pesantren misalnya, hampir setiap waktu kyai selalu mengajarkan para santrinya tentang bagaimana mencintai bangsa, memahami dan mempertahankan jika terjadi sesuatu dan itu menjadi bagian dari ajaran agama dan yang perlu diketahui disini bagi pesantren, dasar negara Pancasila dan UUD 1945 itu sudah final. Jadi secara tradisi pesantren selalu menyelenggarakan nilai-nilai kebangsaan.

“Coba kalau pemerintah mau melibatkan orang atau golongan diluar formal yang memiliki sikap nasionalisme yang bagus, tentu pengaruh yang ditimbulkan akan lebih efektif ketimbang hanya menggunakan lembaga-lembaga formal yang hanya diselenggarakan dengan hitungan hari yang pasti dengan biaya anggaran yang juga tidak sedikit,” katanya menjelaskan.

Dijelaskan lebih lanjut, pendidikan yang bagus adalah bagaimana rakyat itu dianggap dewasa dan dilibatkan berpartisipasi untuk bangsa sesuai dengan kemampuannya. Bukan malah dianggap bodoh dan kalau seperti ini terus bangsa ini masih jauh untuk menjadi sebuah Negara yang besar.

Pada konteks-konteks tertentu, lanjutnya, melemahnya wawasan kebangsaan juga merupakan hal yang sangat ditunggu-tunggu orang atau golongan yang sengaja memanfaatkan kondisi untuk memprovokasi rakyat untuk tidak membela negaranya.

“Saat ini bangsa kita banyak sekali pejabat yang pada korupsi dan itu adalah fakta, dan seandainya ada orang atau golongan yang memanfaatkan kondisi seperti itu ya sangat rasional karena memang sangat mudah di cerna. Untuk itu sangat dibutuhkan keseriusan untuk mengembalikan rasa nasionalisme rakyat kepada bangsa dengan mencontohkan perilaku yang baik dari pemimpinnya,” ungkapnya.

Untuk menumbuhkan kembali rasa nasionalisme memang berbeda-beda cara. Untuk umat islam, yaitu dengan mensyukuri apa yang ia punya, jadi anak-anak dibawa kepada suatu kenyataan bahwa kita ini diberi oleh tuhan sebuah wilayah yang disebut dengan untaian zambrud katulistiwa yaitu Indonesia dengan tanah yang subur dengan aneka macam budayanya. Hanya saja disini memang memiliki kelemahan yaitu SDM nya, tapi apabila kita bisa membenahi SDM ini dengan baik maka karunia Tuhan yang luar biasa ini pasti akan ditambah dan ini akan mengalahkan negara manapun di dunia. Termasuk orang Islam harus mempunyai keyakinan negara ini akan menjadi negara yang makmur dari Negara Arab daerah dimana Islam dilahirkan.

“Banyaknya kemiskinan di negeri ini karena kita memang tidak pandai bersyukur, ibarat sudah diberi baju yang bagus malah dicoret-coret. Memberikan pemahaman ini juga harus dengan menunjukan faktanya, kalau ini diucapkan oleh pejabat jika dia sendiri tidak bisa menunjukan perilaku sebagai orang yang tidak pandai bersyukur, hal ini juga akan sia-sia,” tutupnya.//ipung