Selasa, 25 Maret 2014 - 10:49:33 WIB
Mengisi Waktu Luang Menjadi Tukang Rongsokan
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 10526 kali

Siang itu cuaca memang tidak bersahabat, mendung tebal yang menutupi sebagian kota Purwokerto memuntahkan butiran-butiran airnya. Beberapa pengendara sepeda motor nampak sibuk mengenakan jas hujan. Sementara ada pula yang mencari tempat berteduh di emperan toko yang ada disepanjang jalan. Begitu juga dengan Rosidi yang saat itu juga sedang melintas, hujan lebat yang terjadi membuatnya terpaksa menghentikan aktifitasnya sebagai pencari barang-barang rongsokan. Selasa (04/03/2014) lalu, sambil menunggu hujan reda Rosidi pun menata dan memilah-milah barang bekas yang sudah ia dapatkan sejak tadi pagi.

Kepada PAMOR Lelaki berumur 54 tahun warga Desa Keradenan, Kecamatan Sumbang, Banyumas bercerita bahwa setiap harinya ia selalu menempuh perjalanan berpuluh-puluh kilometer untuk mencari barang-barang bekas mulai dari segala jenis plastik, besi bekas, kertas sampai dengan botol-botol bekas. Barang-barang bekas tersebut ia dapatkan tidak dari memunggut melainkan ia beli dari masyarakat yang menjualnya.

Aktifitas mencari barang bekas biasa ia lakukan mulai dari jam delapan pagi hingga sore hari. Dengan menggunakan sepeda onthel dan keranjang, ia pun menelusuri jalan dari kampung ke kampung meskipun kadang apa yang dicari belum tentu ia dapatkan. Bermacam karakter yang ada di masyarakat merupakan hal yang biasa ia hadapi dari orang yang menjual barang-barang bekas miliknya dengan harga yang tidak masuk akal hingga orang yang kadang malah suka rela memberikan barang-berang yang sudah tidak dipakai.

“Ya namanya orang jualan, meskipun barang-barang tersebut hanya barang bekas yang sudah tidak dipakai kadang si penjual juga pengin dapat untung dan jualnya pun dengan harga yang tidak masuk akal untuk harga barang-barang bekas,” jelasnya.

Menurutnya, barang-barang rongsok yang ia peroleh tidak hanya dijual ke satu pengepul saja melainkan ia jual kepada pengepul-pengepul barang bekas yang ia temui sesudah mencari barang bekas baik di dalam kota maupun yang ada di pinggiran kota Purwokerto. Dalam sehari jika sedang beruntung ia bisa mendapatkan penghasilan sekitar tiga puluh sampai empat puluh ribu rupiah, tapi jika sedang tidak beruntung ia pun harus rela pulang dengan tangan kosong.

Yen ana sing adol ya mending, isa ulih akeh. Tapi yen langka ya bali kosong,” ucapnya seraya tangannya sibuk memilah-milah barang rongsok.

Bapak empat anak ini juga mengatakan, mejadi tukang rongsokan sudah ia jalani selama enam tahun sebelumnya ia berprofesi sebagai pedagang sayur di Pasar Wage karena kondisi fisiknya yang sudah tidak kuat menahan dinginnya angin malam, profesi sebagai penjual sayur pun ia tinggalkan dan beralih profesi menjadi tukang rongsokan.

“Kalau nyari barang rongsokan kan tidak sampai malam, beda dengan jualan sayur yang ke pasarnya harus tengah malam biar bisa dapat sayuran yang masih segar,” katanya.

Meskipun keempat anaknya sudah pada hidup mandiri, tapi tidak membuat lelaki ini harus berdiam diri. Mengais rezeki dari barang-barang bekas pun tetap ia lakukan meskipun segala kebutuhan sehari-hari sudah dicukupi oleh anak-anaknya. “Paling tidak kan bisa bantu buat tambah-tambah keperluan sehari-hari dan juga bisa buat jajan cucu,” tuturnya.

Selain kesehariannya dijalani sebagai tukang barang rongsokan, disela-sela aktifitasnya tersebut tidak jarang Rosidi juga mencari rumput untuk makanan ternak kambingnya.

Siang itu Rosidi memang tidak beruntung, bukan karena tidak ada yang mau menjual barang rongsokannya kepada dia tapi karena cuaca yang memaksanya untuk berhenti mengais rezeki. Namun, ia juga masih beruntung waktu berangkat dari rumah tadi pagi ia bertemu dengan petani yang sedang memanen ubi jalarnya dan daun ubi jalar tersebut pun diminta untuk makanan kambing ternaknya jadi keranjang yang selalu setia menemaninya dalam mengais rezeki pun tidak sampai kosong.//ipung