Selasa, 25 Maret 2014 - 10:44:45 WIB
Bata Merah Dari Tepian Serayu
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 12684 kali

Berkecimpung dengan pekerjaan yang kotor sudah menjadi kesehariannya, keringat dan terik matahari yang menyengat kulit seolah jadi kenikmatan tersendiri. Dengan tekun sosok lelaki hitam legam ini terus mengaduk-aduk tanah lumpur dengan kedua tangannya meskipun saat itu cuaca sedang terik-teriknya. Seperti itulah keseharian Sarto warga Desa Papringan Wetan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. Selasa (18/03/2014) lalu, saat melakukan aktifitas sebagai pembuat bata merah.

Bagi lelaki 34 tahun ini, bekerja menjadi tukang pembuat bata merah sudah dilakoninya hampir sepuluh tahun lamanya. Dalam sehari jika cuaca sedang cerah ia bisa membuat rata-rata limaratus sampai enamratus biji dengan upah perbijinya tujuh puluh rupiah.

“Ya lumayan mas bisa buat ngasih makan anak istri,” ucapnya seraya tangannya terus mengaduk-aduk tanah.

Menurutnya, tanah merah yang dipakai untuk membuat bata sengaja dibeli dari daerah Pasinggangan Binangun, selain karena tanahnya yang bagus, tanah dari Pasinggangan juga dikenal halusnya jadi jika dicampur dengan ladu dan sekam (serbuk gergaji) akan menghasilkan batu bata yang tidak mudah pecah.

Pembuatan bata di daerah Papringan rata-rata memang menggunakan cara manual tidak menggunakan mesin cetak ataupun mesin penggiling tanah, untuk mengaduk tanah yang akan dijadikan batu bata yaitu dengan menggunakan cangkul.

“Disini hampir semua perajin memang menggunakan cara manual, tapi untuk kualitasnya ya tidak kalah-kalah banget sama yang dicetak menggunakan mesin,” tuturnya.

Cara pembuatannya pun terbilang sangat sederhana yaitu tanah merah yang sudah dicampur dengan ladu (lumpur sungai) dan serbuk gergaji disiram dengan air diaduk menggunakan cangkul hingga merata dan menjadi liat, setelah itu adukan tanah tersebut kemudian dipadatkan dengan tangan kedalam cetakan yang terbuat dari kayu yang berukuran 12X25 cm dengan ketebalan kurang lebih 4 cm dan diletakan diatas tanah yang sudah diberi lapisan serbuk gergaji, hal ini bertujuan agar ketika batu bata setengah kering mudah diangkat dan disusun untuk proses pengeringan. Pada proses pengeringan ini membutuhkan waktu dua hari bila keadaan cuaca panas, tetapi jika hujan atau mendung bisa memakan waktu hingga 5-6 hari atau lebih.

Sementara Ratun (35) rekan Sarto mengatakan, selain harus tekun dan mau panas-panasan untuk membuat bata merah memang sangat dibutuhkan tenaga yang besar untuk mengaduk dan mencampur bahan dan pada saat mengaduk pun tanah juga harus di injak-injak agar tanah lebih cepat menjadi liat. Rakun sendiri memang baru enam bulan menjalani aktifitas sebagai pembuat bata merah sebelumnya ia berprofesi sebagai buruh serabutan. Dalam sehari ia mampu membuat bata merah hingga enam ratus biji.

“Kalau diitung-itung ya mending kerja jadi pembuat bata merah ketimbang buruh serabutan, meskipun hasilnya tidak seberapa tapi kan bisa tiap hari kerja jadi bisa terus ngasih makan keluarga,” katanya.

Mayoritas penduduk Desa Papringan Wetan memang berprofesi sebagai pembuat bata merah. Hampir disepanjang pinggiran sungai serayu tersebut banyak berdiri tobong (tempat pembakaran) bata merah yang dimanfaatkan oleh warga sekitar dan bahkan beberapa orang dari luar sebagai tempat untuk menggantungkan hidupnya.

Ruslan (40) salah satu pemilik tobong mengatakan, usaha batu bata miliknya ini sudah berjalan kurang lebih dua belas tahun lamanya dengan mempekerjakan sekitar lima sampai enam pekerja dengan sistem upah per bijian.

“Di sini hampir semua pemilik tobong biasa menggunakan tenaga untuk mencetak bata itu dengan sistim upah per biji, dan pembayarannya pun dilakukan seminggu sekali, jadi jika pekerja setiap harinya dia mampu membuat bata banyak ya upahnya tentu saja akan banyak,” ucapnya.

Seperti halnya perajin-perajin batu bata lainnya, pembakaran batu bata di tobong miliknya juga dilakukan setelah bata-bata yang dicetak sudah banyak dan sudah kering, pada prose’s pembakaran bata ini Ruslan selalu menggunakan tenaga dari masyarakat sekitar dengan sistim borongan. Bahan bakar yang digunakannya pun dengan menggunakan kayu bakar yaitu kayu-kayu sisa yang biasa ia beli di tempat-tempat penggergajian.

“Jika sedang musim kemarau kita bisa melakukan pembakaran setiap dua minggu sekali, tapi jika sedang musim hujan seperti saat ini kadang bisa sebulan sekali karena selain batu bata susah kering, proses pembuatannya juga sering tertunda,” ucapnya.

Menurutnya kerajinan pembuatan bata merah ini memang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Papringan yang sebelumnya merupakan salah satu pusat dari penambangan pasir. Namun, entah kenapa lambat laun pasir-pasir yang dihasilkan dari aktifitas menambang di Sungai Serayu kurang diminati pembeli. Dari kejadian itulah beberapa pengusaha beralih menjadi pengusaha batu bata merah hingga saat ini.//ipung