Selasa, 25 Maret 2014 - 10:38:13 WIB
Melestarikan Kesenian Tradisional
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Berita Kota - Dibaca: 17609 kali

Perkembangan budaya di Indonesia selalu naik dan turun, pada awalnya Indonesia sangat banyak peninggalan dari nenek moyang kita. Itulah semestinya yang harus kita banggakan. Tetapi saat ini mulai memudar dan dilupakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Semakin majunya arus globalisasi, rasa cinta terhadap adat dan tradisi budaya semakin berkurang, ini sangat berdampak tidak baik bagi budaya yang kita miliki.

Hal tersebut diungkapkan Sekertaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Cilacap, Marsono, MM disaat pembukaan Pagelaran Festival Seni Ebeg yang diikuti oleh 18 grup ebeg se- Eks Distrik Kroya di obyek wisata Pantai Congot, Jetis, Nusawungu, Cilacap, Sabtu (08/03/2014).

“Hal ini dikarenakan, banyaknya pengaruh kebudayaan asing yang masuk di Indonesia, sehingga masyarakat kini berkembang menjadi masyarakat yang modern. Buktinya masyarakat dari luar lebih mengenal budaya Indonesia dibandingkan masyarakat kita sendiri,” tuturnya.

Lebih lanjut Marsono menjelaskan, akhir akhir ini Indonesia semakin gencar membudidayakan dan mengangkat derajat budaya Indonesia, sebagai contoh adalah batik hasil dari kebudayaan Indonesia. Batik tersebut belakangan ini termasuk yang diminati oleh masyarakat luar dan menjadi trend, sehingga batik ditetapkan oleh Unesco pada hari Jumat, 2 oktober 2011 sebagai warisan budaya Indonesia dan hari itulah ditetapkannya sebagai Hari Batik Nasional. Setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas budaya masing-masing, begitu juga Kabupaten Cilacap. Masyarakat Cilacap memiliki latar belakang seni budaya yang beragam, ragam seni budaya ini harus dilestarikan dan dijaga agar tidak luntur atau hilang, sehingga dapat dipelajari dan dilestarikan oleh generasi berikutnya.

“Cilacap merupakan kabupaten terluas di Jawa Tengah dan berada di ujung barat daya berbatasan dengan Kabupaten Ciamis, Jawa Barat yang memiliki budaya pasundan. Sedangkan disebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banyumas dan di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kebumen serta di sebelah selatan adalah Samudera Hindia, sehingga Kabupaten Cilacap mempunyai tiga budaya yakni budaya Pasundan, budaya Jawa Surakarta dan budaya Jawa Banyumasan. Kebudayaan tersebut harus dipertahankan dan dilestarikan,” katanya.

Marsono mengungkapkan, ebeg merupakan kesenian tradisional yang tumbuh di masyarakat. Pemkab Cilacap terus berupaya memfasilitasi keberadaan seni tersebut agar digemari oleh masyarakat. Sedangkan baik dan tidaknya penampilan ebeg tergantung dari kreatifitas seniman dan seniwati. Para seniman harus kreatif dan berpola pikir maju mulai dari managemen organisasi hingga tata dan teknik pentas kesenian tersebut. Sehingga kesenian tradisional yang kita miliki bisa mengikuti perkembangan zaman yang selalu berubah-ubah.

Selama ini, lanjut Marsono, banyak kesenian tradisional mulai dilupakan oleh sebagian masyarakat. Festival Kesenian Tradisional Ebeg ini bertujuan untuk nguri-nguri budaya Jawa agar anak-anak kita itu tidak melupakan jati dirinya sehingga terpatri di sanubari mereka untuk senantiasa teguh mengangkat dan melestarikan serta mempertahankan budaya kita yang selama ini mulai pudar.

“Dengan diadakan kegiatan semacam ini dan banyak tontonan tentang nguri-nguri budaya tidak hanya sebagai tontonan, melainkan sebagai tuntunan. Hal ini tentunya akan terpatri di sanubari anak-anak kita untuk mempertahankan dan melestarikan ragam seni budaya yang kita miliki. Sehingga budaya Jawa tidak tergerus oleh era globalisasi dan pengaruh budaya asing. Ternyata hasil kita melihat di lapangan sangat membanggakan dengan pertunjukan ebeg yang dibawakan oleh peserta yang masih berusia anak SD hingga SMP, ” katanya.

Selain melestarikan dan mempertahankan kesenian tradisional, imbuh Marsono, kita juga ingin mempromosikan obyek wisata Desa Wisata Karang Banar yaitu obyek wisata Pantai Congot, Pantai Bunso, dan Pantai Cemara Sewu agar bisa dikenal di masyarakat kabupaten tetangga. Sehingga bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan harapan terbesar kita adalah potensi obyek wisata yang kita miliki bisa dikenal di seluruh Indonesia.

“Desa Wisata Karang Banar ini ialah nama desa wisata yang dikelola oleh tiga Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis) yang berada di Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu yang terdiri Pokdarwis obyek wisata Pantai Congot, Pantai Bunso dan Pantai Cemara Sewu. Harapan saya, setelah mengadakan kegiatan ini akan muncul kelompok budaya yang meramaikan tontonan kesenian tradisional di lokasi Desa Wisata Karang Banar. Kita hanya membantu mempromosikan setelah ramai pengunjung. Masyarakat nantinya yang meramaikan. Kita hanya memberikan subsidi dan kedepan dari APBD bisa mengalokasikan untuk kegiatan semacam ini,” katanya.

Sementara itu, Sulantri salah satu pengunjung di obyek wisata Pantai Congot mengaku sangat menyukai tontonan kesenian tradisional. Baginya tontonan seperti ebeg, lengger dan kesenian tradisional lainnya mempunyai daya tarik tersendiri dan harus dipertahankan serta dilestarikan.

“Sebaiknya tontonan seperti ini diadakan tidak hanya pada saat festival seni saja. karena masyarakat saat ini haus akan tontonan kesenian tradisional, sehingga selain nguri-nguri budaya, tontonan kesenian tradisional ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung di obyek wisata yang ada di Kabupaten Cilacap,” pungkasnya. //dodo