Selasa, 25 Maret 2014 - 10:28:42 WIB
Lengger Calung Banyumasan
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 13168 kali

Calung merupakan musik tradisional dengan perangkat mirip gamelan yang terbuat dari bambu wulung. Musik calung hidup di komunitas masyarakat pedesaan di wilayah sebaran budaya Banyumas. Perangkat musik calung terdiri atas gambang barung, gambang penerus, dhendhem, kenong, gong bambu, dan kendhang. Calung biasa difungsikan sebagai alat musik dalam seni pertunjukkan seperti Lengger (seni tari) dan Ebeg (kuda lumping khas Banyumas).

Kata “Calung” berasal dari kata diprocol nganti melung. Kalimat diprocol itu bisa dilihat dari bentuk calung itu sendiri yang berupa sayatan melengkung pada bilah bambu, sementara kalimat melung yaitu bunyi. Jadi istilah diprocol nganti melung itu menyayat batang bambu sampai menghasilkan suara yang sempurna. Demikian menurut Sukendar Hadi Sumarto pelaku seni dan pembuat alat musik calung asal Desa Papringan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, kepada PAMOR Selasa (19/03/2014) dirumahnya.

“Memang arti calung sampai sekarang belum diketahui dengan pasti, karena ada juga yang mengartikan calung itu dari kata carang pring wulung,” ucapnya.

Diceritakan bahwa awal mula calung itu terbuat dari bambu tutul, namun seiring perkembangannya para pembuat calung lebih memilih bambu wulung (hitam). Dengan banyaknya calung menggunakan bambu wulung, lambat laun calung-calung yang dari bambu tutul mulai menghilang.

Untuk membuat calung dengan kualitas suara yang bagus, bambu yang dipergunakan itu harus benar-benar kering, tapi bukan kering karena dijemur melainkan kering hanya di angin-anginkan saja. Biasanya dari nebang sampai bisa dipakai buat calung itu memerlukan waktu minimal enam bulan.

“Bambu yang yang habis ditebang itu dibiarkan dulu sampai daun-daunnya pada rontok sendiri, setelah itu baru dibersihkan rantingnya (carang) dan disimpan ditempat yang teduh agar ketika sudah kering ruas-ruas bambunya tidak pecah,” jelasnya.

Spesifikasi musik calung adalah bentuk musik minimal yaitu dengan perangkat yang sederhana namun mampu menghasilkan aransemen musik yang lengkap. Dalam penyajiannya calung biasanya diiringi oleh seorang penyayi atau lebih dikenal sebagai sinden dan penari atau lengger. Calung Banyumasan ini sebenarnya hanya berlaras slendro tapi seiring perkembangannya mulai muncul fariasi dari masyarakat maupun senimannya dan merubah dengan laras pelog.

Pada era tahun 1970-an kehidupan calung sangat popular. Disamping berperan penting dalam kehidupan seni pertunjukan masyarakat Banyumas, calung juga merupakan kesenian tradisional kerakyatan yang mewarnai kehidupan masyarakat dan bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat seperti dalam tradisi bersih desa, untuk pelengkap upacara hari besar, hiburan, dan juga memiliki satu bentuk spirit musikal yang sangat kuat sebagai daya ungkap seniman Banyumas.

“Saat itu kesenian calung benar-banar berfungsi sebagai kebutuhan sosial, mulai dari hajat pernikahan, khitanan, tindik, dan keperluan ritual-ritual lainnya. Karena saking lakunya, dulu seorang pemain calung itu pengin libur saja sampai gak bisa,” kenangnya.

Sikap dan selera masyarakat yang selalu berubah seiring zamannya, membuat kesenian calung ini tidak bisa mengelak dari kondisi tersebut. Perubahan kesenian calung tampak sebagai gejala adanya faktor zaman yaitu dari bentuk dan penggarapannya.

Perubahan garapan yang terjadi, lanjutnya, yaitu pada tergesernya sajian gendhing-gendhing Banyumasan klasik oleh arus perkembangan zaman yang berorientasi pada selera pasar. Peristiwa tersebut menuntut adanya perubahan-perubahan penggarapan secara musikal maupun bentuk sajiannya.

“Sekitar Tahun 1997 an masyarakat lebih menyukai pertunjukkan lengger dengan tambahan alat-alat musik modern dan efek yang terjadi saat itu kesenian calung menjadi ajang kerusuhan anak-anak muda, dan itu awal mula eksistensi calung bergeser dan merosot,” ungkapnya.

Jadi calung yang tadinya Sebuah karya seni yang diciptakan oleh manusia sebagai bentuk ekspresi budaya dan merupakan ungkapan sosial yang bukan untuk kepentingan sendiri tetapi juga untuk kebutuhan orang lain, saat ini seperti diperlakukan sebagai barang mati yang tidak berarti apa-apa dan begitu juga dengan lenggernya yang memang sejak dulu dikenal tanda kutip, dan disini sangat diperlukan upaya untuk melestarikan kesenian lengger calung Banyumas. Perlu digalakkannya kembali lengger dan calung ini agar kedepanya generasi penerus kesenian sejarah tari lengger calung Banyumas tetap eksis dalam menghadapi perkembangan zaman.//ipung