Rabu, 18 Desember 2013 - 12:17:10 WIB
Penyerahkan Bantuan Optimalisasi Lahan Pertanian oleh Dirjen PSP
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Berita Kota - Dibaca: 55895 kali

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Dirjen PSP) Kementerian Pertanian RI Dr Ir Sumarjo Gatot Irianto MS DAA mengaku prihatin dengan alih fungsi lahan sepanjang perjalanan dari Purwokerto menuju Purbalingga. Sumarjo juga mengatakan pihaknya hanya akan memberikan bantuan pada petani yang mendukung ‘Nol untuk Alih Fungsi Lahan’.

“Alih fungsi lahan mengerikan. Ini juga terjadi di hampir seluruh pelosok tanah air. Kalau membangun rumah atau toko, sebisa mungkin gunakan lahan kering, jangan lahan sawah,” tegasnya saat memberikan pengarahan pada Sarasehan dalam rangka Panen Padi dengan Teknologi System of Rice Intensification (SRI) di Desa Senon Kecamatan Kemangkon, Sabtu (14/12).

Sumarjo meminta komiten Bupati untuk mendukung ‘Nol untuk Alih Fungsi Lahan’. Karena, kata dia, jika pemimpin daerah tegas, maka lahan subur dapat terselamatkan. Penyelamatan lahan subur juga berarti penyelamatan kehidupan masyarakat kita yang 90 persen mengkonsumsi beras.

“Nanti kalau di padang mahsyar, saya dan pak bupati akan dimintai pertanggungjawaban jika sampai ada lahan subur habis untuk perumahan dan pertokoan. Ini serius!” tegasnya lagi.

Selain kepada bupati, Sumarjo juga meminta dukungan para petani. Petani diminta memprakarsai Peraturan Desa (Perdes) untuk mendukung ‘Nol untuk Alih Fungsi Lahan’. Bahkan dia berjanji, akan menggelontorkan bantuan hanya untuk petani yang di desanya telah ada perdes ini.

Dalam sarasehan, para petani meminta Dirjen PSP untuk memberikan bantuan traktor dan rice transplanter. Sebagai gambaran untuk lahan pertanian dengan metode SRI di Desnon, luas lahannya 2000 ha dan hanya tersedia 9 traktor. Padahal idealnya, 10 ha terdapat 1 traktor.

Menanggapi hal ini, Sumarjo justru meminta para petani untuk efisien menggunakan Peralatan Mesin Pertanian (Alsintan) seperti traktor dan rice tranplanter. Bahkan Sumarjo sangat tidak sepakat pemilikan pribadi atas alsintan.

“Jangan sampai satu RT satu alsintan. Apalagi sampai hanya dimiliki perorangan. Ini pemborosan. Juga SDM yang digunakan jadi tidak efisien. Alsintan kalau bisa digunakan bareng-bareng. Menyayangi kan tak harus memiliki,” ujar Sumarjo tak lupa bergurau.

Sementara itu hasil panen padi dengan Teknologi SRI di Desa Senon tercatat kenaikan signifikan dibandingkan tanpa metode SRI antara 16 persen hingga 33 persen. Dengan SRI, hasil mencapai 10,2 ton / ha atau 20.400 ton untuk 2000 ha. Jumlah rata-rata anakan 56 batang dengan jumlah mulir 200 bulir per batang.

 “SRI itu teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas padi dengan memanfaatkan tanah, air, unsur hara dan juga teknik pengelolaan tanaman terkini,” jelas Kepala Dinas Pertanian Ir Lily Purwati saat mendampingi Wakil Bupati Drs H Sukento Ridho Marhaendrianto MM melihat hasil panen di Desa Karangkemiri Kecamatan Kemangkon).

Lily menambahkan teknologi SRI diperkenalkan di Purbalingga tahun 2008, dan kini telah ada 100 kelompok tani yang menerapkannya di seluruh pelosok Purbalingga. Untuk penerapan di Desa Senon, ada peningkatan produktivitas padi yang cukup signifikan dari sebelum menggunakan teknologi SRI dengan setelahnya.

“Sebelum menggunakan SRI, produktivitas hanya 6 ton per hektar. Setelah menggunakan SRI, kenaikan menjadi 7 ton hingga 8 ton per hektar. Lahan di Senon yang digunakan SRI seluas 2000 ha, jadi ada kenaikan 16 persen hingga 33 persen,” ungkapnya.

Menurut Lily, teknologi SRI seperti yang diterapkan di Desa Senon relatif ramah lingkungan. Sebab, dengan teknologi ini dalam penggarapannya mengutamakan bahan-bahan alami atau organik yang sangat baik untuk mengembalikan kesuburan tanah.

“Lahan padi itu cenderung mengalami yang kita sebut leveling off. Jadi dengan teknologi SRI ini, lahan akan dikembalikan kesuburannya. Sehingga usai panen nanti, lahan tetap mengalami tingkat kesuburan yang baik bahkan lebih baik lagi,” imbuhnya.

Menurut Lily, selain melakukan panen, Dirjen PSP juga akan meninjau beberapa proyek pertanian yang sedang, akan dan telah dilaksanakan di Purbalingga. Kegiatan panen dilaksanakan pagi hari, sedangkan peninjauan proyek akan dilakukan usai makan siang.//agus