Jumat, 29 November 2013 - 12:49:54 WIB
Purwanegara "purwamenggala"
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 38528 kali

Banjarnegara, Pamor, Ketika Perang Jawa atau perang Diponegoro, lebih tepatnya perjuangan Pangeran Diponegoro melawan kumpeni penjajah berakhir pada tahun 1830, banyak para prajurit juga para manggala yudhanya yang sedang dalam posisi siaga di banyak tempat di pulau Jawa ini tidak kembali ke kampung halaman asalnya, banyak sebab mengapa demikian antara lain menghindari penangkapan atau pengejaran pihak musuh yang terbukti berakal licik untuk menangkap Pangeran Diponegoro beserta panglimanya. Bukannya para prajurit atau panglimanya itu takut melanjutkan perang atau melanjutkan perjuangan P. Diponegoro, tetapi lebih cenderung untuk menghindari lebih banyak korban sia-sia dipihak rakyat. Padahal sekalipun berpangkat prajurit tetapi para pengikut P. Diponegoro bukanlah sekedar prajurit tanpa bekal “luar dalam” yang mumpuni,apalagi para panglimanya. Akhirnya mereka yang tertinggal di medan perang, lebih suka menetap di daerah manapun mereka sebelumnya berjuang. Ada salah seorang pengikut P. Diponegoro yang memiliki banyak keahlian, selain tentu saja keahlian siasat berperang, tetapi juga bersyiar agama, kemampuan membuat persenjataan atau sebagai empu keris, tombak dan sebagainya hingga olah kanuragan. Anak buah P. Diponegoro tersebut akhirnya menetap di sebuah belukar tepian sungai Serayu, tidak jauh dari komplek petilasan Bojong Koneng, kampung Brubahan Purwonegoro saat ini. Menurut Suroso salah seorang penggali sejarah Purwonegoro, dikatakan bahwa prajurit yang tidak mau diketahui namanya tersebut akhirnya lama-lama mendapatkan pengikut yang ingin belajar tentang keagamaan, pembuatan tosan aji (senjata) hingga olah kanuragan (kesaktian). Karena semakin banyak pengikutnya, prajurit yang akhirnya mendapat julukan sebagai Empu Negara, atau seorang ahli pembuat senjata dari negeri Mataram itu lama-lama penyebutannya menjadi Mpunagara, Purwanegara atau Purwonegoro juga Purwa Menggala, tokoh perintis berdirinya sebuah desa benama Purwonegoro. Purwonegoro yang sebenarnya berasal dari dua suku kata, yaitu : Purwo atau wiwitan yang artinya awal dan negoro atau negara yang lebih cenderung berarti negari atau kota. Kelak kemudian hari Purwonegoro memang menjadi sebuah kota sekaligus ibukota Kecamatan Purwonegoro – Kabupaten Banjarnegara. Untuk mengenang jasa Purwa Mengala sejak semula telah ada kegiatan yang dikaitkan dengan peristiwa datangnya bulan Sura atau tahun baru Jawa seperti bersih desa yang mencakup kegiatan bersih-bersih makam Purwa Menggala di komplek makam Bojong Koneng, Dusun Brubahan Purwonegoro, pentas wayang kulit dan sebagainya. Tetapi mulai tahun ini oleh Kepala Desa Purwonegoro, Renda Sabita Noris, SH, acara bersih desa itu mulai dipadukan dengan potensi-potensi seni budaya yang ada, seperti musik kentongan (thek-thek), kuda lumping, seni tari, lomba grafiti hinga lomba foto dan dikemas menjadi Festival Budaya Bojong Koneng 2013. Kegiatan – kegiatan tersebut memakan waktu sepekan atau mulai tanggal 16 hingga 20 November 2013. Pada acara tanggal 20 November dilakukan arak-arakan atau kirab Ruwat Bumi dengan mengambil start di Dusun Brubahan untuk menuju Stadion Purwa Menggala di Kota Purwanegoro yang berjarak kurang lebih 3 km. Kirab Ruwat Bumi yang lebih cenderung sebagai Kirab Budaya itu karena ada rangkaian tujuh Putri Srikandi yang membawa 7 buah kendi berisi air dari 7 mata air, beberapa group kesenian/musik seperti drumband hinga thek-thek, 2 buah gunungan hasil bumi, 36 tumpeng yang dibawa ibu-ibu dengan pakaian kebaya khas, barisan perangkat RT-RW, desa dan tokoh masyarakat dengan pakaian adat Jawa dan sebagainya. Di tempat tujuan atau Stadion Purwa Menggala barisan Ruwat Bumi disambut para pejabat Muspika, perwakilan dari Pemkab Banjarnegara hingga masyarakat umum yang tumpah ruah baik di dalam maupun diluar stadion, karena di tempat yang sama juga digelar Kareografi Purwa Menggala dan wayang kulit ruwatan oleh dalang Ki Supen Siswo Carito . Puncak acara Festival Budaya Bojong Koneng ditutup dengan acara Purwonegoro Bersholawat bersama Habib Syech Assegaf dari Solo tanggal 28 November 2013.//sigit