Jumat, 29 November 2013 - 12:45:57 WIB
Ruwat Gentuh "Meruat Bumi"
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 28518 kali

Banjarnegara, Pamor Tuhan itu ada di mana-mana, bahkan bisa sangat dekat dengan nadi kita, demikian para bijak dan ulama sering memberikan petuah dan petunjuknya tentang kedekatan kita dengan Sang Khalik, Sang Maha Pencipta. Jadi berdoa kapan saja, dimana saja tidak ada ketentuan dan batasannya, kecuali memang dalam niatan berdoa itu ada dilakukan dalam keperluan-keperluan khusus atau kepentingan tertentu dengan lelaku atau ritual sesuai tradisi yang telah diyakini dan dilaksanakan secara turun temurun bahkan berabad-abad. Seperti halnya umat Hindu Bali yang punya banyak macam ritual dalam berdoa, diantaranya dalah ritual Labuh Gentuh, yang belum lama ini (4/10) dilaksanakan bukan di Bali sendiri, tetapi disekitar bibir kawah Sikidang , Dataran Tinggi Dieng Banjarnegara - Jawa Tengah. Ratusan warga Hindu Bali tua muda, laki-laki, perempuan tumpah ruah dengan segala pernik dan aksesoris keperluan ritual tersebut seolah membuat situasi di dataran tinggi yang dinginnya bisa menyaingi suhu di dalam lemari pendinging (kulkas) itu menjadi “Bali kedua” atau sama sekali Bali pindah ke Dieng. Ratusan bahkan mungkin ribuan wisatawan baik lokal nusantara maupun mancanegara yang hadir serentak diam seolah tersihir atau terikut suasana tahap demi tahap ritual yang sedang berlangsung dan memakan waktu lebih dari 4 jam yang terdiri atas : matur pakeling, melaspas upakara, menghaturkan Tawur Agung Labuh Gentuh, menghaturkan Panca Datu Ring Kawah Sikidang, menghaturkan Catur, murwa daksina, sembahyang bersama, mamasar hingga melabuh atau melepas semua ubo rampe ritual ke kawah Sikidang yang terdiri dari macam-macam jenis jajanan pasar, aneka bunga, macam-macam binatang unggas, baik unggas yang biasa hidup di darat / udara seperti ayam, aneka burung hingga itik, bebek dan angsa, juga binatang ternak berkaki empat seperi kambing, sapi dan kerbau. Selama acara berlangsung musik gamelan khas Bali terus berkumandang mengiringi setiap tahap ritual , baik untuk mengiringi doa-doa, tari-tarian sakral seperi barbagai jenis tari Topeng hinga tari Baris. Menurut Ketua Panitia Labuh Gentuh, Mangku Alit Ngurah Artha dari Paguyuban Sakehe Asuti Rahayu “ Rsi Markandya Gunung Sari Artha” Sukowati Kabupaten Gianyar Bali, kepada wartawan disampaikan bahwa acara Labuh Gentuh di Bali sendiri dilaksanakan tiap 10 dan 100 tahun sekali. Karena warga Hindu Bali merasa bahwa nenek moyang mereka berasal dari Dieng Plateau ini maka wajar-wajar saja bila upacara ini sekali waktu dilaksanakan di tanah ibu leluhur mereka Dieng, tujuannya adalah berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar didatangkan kembali didunia ini keseimbangan alam dan kedamaian untuk seluruh umat manusia tanpa pandang suku maupun agamanya, khusus untuk masyarakat Nusantara selain didatangkan kedamaian juga ketentraman. Mangku Alit menambahkan, bahwa upacara besar ini telah dilaksanakan 4 kali berturut-turut di Dieng sejak tahun 2010, yaitu di komplek Candi Arjuna, Goa Semar dan Telaga Warna, kemudian yang keempat, tahun ini terbesar yang pernah dilaksanakan sehingga nama lengkap untuk upakara ini adalah Karya Tawur Agung Labuh Gentuh, semua tahapan tentu saja dilaksanakan sesuai tata cara dan adat Hindu Bali. Ketika ditanyakan apakah untuk tahun depan atau berikutnya juga akan dilaksanakan seperti saat ini atau bagaimana, dijawab semua tergantung pawisik wahyu yang diterima, kebetulan saja untuk 4 tahun ini pawisik yang diterima memberikan arahan atau petunjuk untuk dilaksanakan di Dieng, pusat peradaban Hindu di jaman Mataram kuno, sebelum di Dieng pernah dilaksanakan di lain tempat, mungkin tahun depan bisa begitu, pihaknya tak berani berjanji, lagi-lagi semua tergantung wahyu yang diterima. Selain dihadiri ribuan pelancong, juga hadir Wakil Bupati Banjarnegara H. Hadi Supeno, M.Si, beserta jajarannya diantaranya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aziz Achmad, S.Sos, Muspika Kecamatan Batur yang membawahi kawasan dataran tinggi Dieng yang terletak 2.075 meter diatas permukaan laut (m dpl) itu, Kepala Desa Dieng Kulon Slamet Budianto beserta staff, para ulama hingga tokoh-tokoh masyarakat seperti Mbah Nuryono, Ketua Pemangku Adat Dieng. Apabila upakara Labuh Gentuh ini bisa menjadi agenda rutin seterusnya, tentu saja akan menambah aneka ragam event budaya yang selama ini telah rutin digelar dikawasan Dataran Tinggi Dieng yang ada atau komplek candi-candi Hindu yang ada, diantaranya Dieng Culture Festival (DCF) yang dilaksanakan setiap akhir bulan Juni. Didalam DCF selain ditampilkan aneka jenis seni budaya Dieng, juga ritual atau ruwatan pemotongan anak-anak berambut gimbal yang dianggap sebagai anak-anak titisan para dewa, juga BARITAN atau ruwat bumi Dieng yang dilaksanakan pada hari Jum’at terakhir di bulan syura atau tahun ini jatuh tanggal 29 Nopember 2013. Hayo buktikan “ Cintaku- Negeriku” dengan beramai-ramai menyaksikan potensi atau kekayaan ragam seni budaya sendiri, siapa lagi yang akan membeli apresiasi, nguri-uri dan melestarikannya kalau bukan kita sendiri, para generasi penerus daripada nenek moyang bangsa negeri Nusantara, Indonesia Tercinta,. .//Sigit.