Selasa, 12 Juni 2012 - 19:07:33 WIB
MENCARI NAFKAH DI BUKIT KAPUR
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 5087 kali

Berbekal palu dan linggis langkah kakinya terus menelusuri jalan setapak menaiki sebuah bukit untuk memulai aktifitas sehari-hari sebagai penambang batu kapur.

Yaitu sutarno (50th) yang akrab dipanggil Tarno asal Desa Gamping, Kelurahan Bandar Dawung, kecamatan Tawangmangu, bergelut dengan kerasnya batu kapur dan medan yang curam sudah menjadi kehidupan yang harus ia jalani setiap harinya.

Dikatakan Sutarno, dalam sehari dia yang dibantu istrinya memperoleh rata-rata satu ton batu kapur, yang dijual dengan harga Rp. 6000- tiap kuintalnya itupun kalau cuacanya lagi bagus.

Untuk dapat memperoleh bongkahan batu kapur memang tidaklah mudah, selain kondisi medan yang sangat sulit, tenaga yang besar juga sangat dibutuhkan agar bisa memecah tebing-tebing batu kapur yang ada.

"untuk memperoleh bongkahan batu kapur penambang harus menggali dari atas tebing, selain mempermudah mendapatkan batu, cara itu juga mengurangi resiko yang ada" kata Tarno.

Bongkahan-bongkahan batu yang didapat kemudian dipecah menjadi kecil untuk  dikumpulkan di bawah bukit yang diusung dengan keranjang menuruni jalan setapak, ini dimaksudkan untuk menguragi tenaga yang dikeluarkan. Setelah semua batu terkumpul dan dirasa cukup, barulah batu-batu tersebut diusung kembali untuk dijual ke pengusaha pemilik tombong (tempat pembakaran batu karpur) yang berada di daerah pemukiman disekitar untuk dijadikan gamping atau bubuk kapur yang dipakai sebagai campuran bahan bangunan.

Penjualan batu kapur memang tidak semerta-merta akan langsung menghasilkan uang, tergantung banyak tidaknya konsumen yang membeli dan memesan gamping tersebut.

"kalau yang beli gamping lagi banyak, penambang akan langsung menerima pembayaran, tapi kalau lagi sepi, penambang harus bersabar menunggu satu sampai dua minggu baru menerima hasil" ucapnya seraya mengayunkan palu besarnya.

Di area tambang batu kapur ini dulunya ada puluhan penambang, namun setelah berkurangnya pembeli membuat area tambang ini mulai ditinggalkan oleh para penambang dan pak Tarno adalah salah satu dari empat penambang yang masih ada dan bertahan. Meskipun hasilnya tidak setimpal dengan resiko yang dihadapinya, tapi demi mencukupi kehidupan keluarganya membuat pak Tarno harus rela menjalani kehidupan sebagai penambang batu kapur.//ipung