Minggu, 03 Juni 2012 - 09:24:35 WIB
GUA TABUHAN
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 6495 kali

Selain stalaktit dan stalagmitnya dapat menghasilkan bunyi sesuai tangga nada ketika dipukul, Goa Tabuhan juga dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Joko Lelono dan tempat bertapanya Sentot Prawirodirjo.

Sebelum memasuki goa, saat langkah kaki menapak pada tiap-tiap anak tangaga tampak terlihat jelas mulut goa yang dihiasi puluhan stalaktit batu kapur yang kokoh berwarna putih dan bersih. Bak mulut raksasa yang menganga menunjukan gigi-gigi taringnya. Saat mulai memasuki goa suasana temaram kian terasa, kilauan stalaktit dan stalgmit dari cahaya lampu yang ditata sedemikian apik pada setiap sudut, di tambah suara gemericik air yang mengalir dari celah dinding serta tetesan air dari beberapa stalaktit yang masih hidup kian menambah keindahan alam bawah tanah ini.

Goa yang berada di Desa Tabuhan, Kelurahan Wareng, Kecamatan Punung, Pacitan ini, memiliki kedalaman 100 m yang terbagi dalam dua ruangan. Selain menyajikan keindahan alam bawah tanah, pada ruang pertama dari Goa Tabuhan juga mempunyai keunikan tersendiri yang sesuai dengan namanya. Tabuhan dari kata tabuh yang berarti membunyikan, yaitu dari beberapa stalaktit dan stalagmitnya jika dipukul akan menghasilkan suara layaknya alat musik gamelan yang oleh warga  setempat dimanfaatkan untuk menghibur setiap pengunjung yang datang.

Semakin masuk ke dalam goa, di sudut sebelah kanan terdapat sebuah lorong pendek untuk menuju ruang goa yang ke dua. suasana gelap dan pengap pun mengisi hampir seluruh sudut dan dinding ruang  yang hanya diterangi oleh lampu di sebuah ruangan kecil di ujung goa. dimana di ruang kecil inilah konon pernah digunakan sebagai tempat untuk bertapanya Sentot Prawirodirjo, seoarang pahlawan nasional pada masa perang Diponegoro ketika berperang dan sembunyi dari kejaran tentara Kolonial Belanda.

Keyakinan masyarakat bahwa di goa tersebut menjadi tempat bertapanya Sentot Prawirodirjo dan tempat bersemayamnya Joko Lelono seorang pangeran yang hidupnya dihabiskan untuk mengembara hingga lupa akan nama dan asal-usulnya ini, menjadikan Goa Tabuhan juga sebagai tempat wisata religi seperti yang dikatakan oleh Susilo (42) juru kunci goa. Dikatakan Susilo, tidak sedikit dari pengunjung yang datang bukan untuk melihat keunikan stalaktit dan stalagmitnya saja, tapi untuk menjalankan ritual dan doa di tempat dimana Sentot Prawirodirjo pernah bertapa, bedanya, kalau yang mau menjalankan ritual dan doa, kebanyakan berkunjung pada malam hari.

Di ceritakan pula bahwa ditemukannya Goa Tabuhan yaitu pada tahun 1822 oleh seorang petani yang bernama Kyai Santiko saat sedang menggembalakan kambing yang tanpa sepengetahuannya masuk kedalam semak-semak yang ternyata adalah sebuah mulut goa. Dari cerita yang berkembang di Desa Wareng, sebelum bernama Goa Tabuhan, goa ini dikenal dengan nama Goa Tapan. yaitu goa yang dipergunakan oleh pengunjung untuk bertapa guna memohon petunjuk agar segala yang di inginkannya bisa terwujud. Hingga suatu ketika ada seorang pengunjung yang tanpa sengaja memukul stalaktit yang ada dan mendapati suara yang merdu, hal itu dilakukan berulang-ulang dan menghasilkan suara yang berbeda-beda satu sama lainnya. Dari situlah awal mula goa ini dikenal dengan sebutan goa Tabuhan.

Legenda Joko Lelono memang sanagat erat dalam kehidupan masyarakat sekitar dan Pacitan pada umumnya, maka tidak heran meskipun telah dijadikan sebagai tempat pariwisata oleh Pemda Pacitan, goa ini masih kerap digunakan sebagai mediator permohonan oleh masyarakat luas.//ipung