Selasa, 22 Mei 2018 - 17:30:54 WIB
Cething, Anyaman Bambu Warisan Leluhur
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 57 kali

Alkisah, pada suatu ketika, disebuah daerah tengah terjadi paceklik berkepanjangan, dan untuk mencari sumber penghidupan baru, salah satu sesepuh setempat melakukan tapa brata untuk memohon petunjuk kepada sang pencipta. Didalam tapa bratanya sesepuh desa tersebut pun didatangi sesosok orang yang memberinya satu ruas bambu tali. Konon atas kepintarannya, bambu tersebut pun diolah menjadi sebuah anyaman berupa cething (wadah yang biasa dipergunakan sebagai tempat nasi).

Demikianlah kisah yang melatarbelakangi adanya sentra kerajinan bambu di Grumbul Girsalam, Desa Kalitapen, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas. Kerajinan bambu merupakan salah satu warisan nenek moyang yang masih berjalan hingga saat ini.

Duduk beralaskan batu dan bersandar pada dinding kayu disamping rumah, Nini Darwen (60) masih saja menganyam helai demi helai ayaran bambu, tidak jauh darinya tampak beberapa tumpuk ayaman berupa blabagan (bahan dasar untuk membuat cething). Sementara dibelakang rumah tampak Kaki Mujeni (75) tengah sibuk ngoyoti (menghaluskan) anyaran bambu.

"Lah wong wis tua ala kok difotoni bae mas, arep go ngapa jane, (lah orang sudah tua jelek difoto terus mas, mau buat apa sebenarnya)," tuturnya kepada PAMOR yang tengah mengabadikan aktifitas tersebut, Senin (21 Mei 2018) lalu.

Seakan tidak terganggu dengan kedatangan PAMOR yang tengah mengambil gambar, Nini Darwen tetap saja menganyam, dan sesekali iya membasahi ayaran bambu dengan air yang sudah ia persiapkan sedari tadi. Dibasahi disini bertujuan agar anyaran bambu tidak patah saat akan dibuconi. Bucon adah istilah ketika cething mulai dianyam untuk membentuk bagian samping atau lingkaran dinding ceting.

"Yen arep di buconi kudu ditelesi ben ora tugel, (kalau mau di buconi harus dibasahi biar tidak patah)," terangnya menjelaskan.

Sebagai orang yang sudah menekuni profesinya sejak masih remaja, untuk membuat cething bukan menjadi hal yang sulit bagi Nini Darwen. Bahkan tanpa harus melihat, tangan-tangan tuanya tetap terampil menganyam tanpa ada kesalahan sedikitpun. Membuat anyaman bambu sudah menjadi mata pencaharian utamanya sejak puluhan tahun silam.

Berbeda dengan Nini Darwen yang biasa membuat cething, Duljalal (65) tampak sibuk memasang wengkon (wudul) cepon diteras depan rumahnya. Memberi wengkon pada ayaman cepon bertujuan supaya ayaman tidak gampang rusak serta memudahkan dalam membawanya. Cepon yaitu wadah yang bentuknya mirip ceting tapi berukuran lebih besar.

Sembari menjalankan aktifitasnya, Duljalal mengatakan bahwa untuk membuat anyaman berupa cething, cepon, kunthung, kejobong, dan pithi itu harus menggunakan rumus yang disebut dengan istilah bubuh, yaitu patokan untuk menentukan besar kecilnya anyaman. Ada tiga jumlah bubuh yang dipakai yaitu bubuh 4, bubuh 5 dan bubuh 6. Rata-rata untuk membuat cething dan cepon menggunakan bubuh 5.

"Sebenarnya sih tergantung si pembuat, mau pake bubuh berapa, tapi pada umumnya untuk membuat cething dan cepon bubuhnya sama saja, yang membedaka kalau untuk cething anyarannya kecil sementara untuk cepon anyarannya lebih besar, makanya hasil anyaman cepon bentuknya lebih besar," jelas Duljalal.

Bukan hanya istilah bubuh saja, pada pembuatan kerajinan ini juga ada istilah pelik, yaitu sebuah patokan yang digunakan untuk membuat kembang pucung, dimana pelik ini juga sebagai dasar untuk menentukan jumlah bubuh yang hendak dipakai. Selain itu pelik juga sebagai kunci untuk memulai tahap buconi.

Menurutnya untuk membuat anyaman seperti cething atau cepon, ada beberapa proses yang mesti dilakukan yaitu dikerok, diirat, dioyot, diblabagi, dibuconi, dianaki, diwudul (wengkoni), dikuniri, ditutus dan disikili. Semua proses itu membutuhkan ketelitian, kesabaran dan ketekunan.

Dikerok adalah proses pembuangan kulit ari pada bilah bambu, hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil ayaman yang bagus dan juga kuat. Setelah bambu selesai dikerok, proses selanjutnya adalah diirat yaitu bambu dibelah tipis-tipis yang kemudian dilanjutkan dengan proses dioyot yaitu proses penghalusan pada tiap helai ayaran bambu. Dalam hal ini anyaran tidak serta merta bisa langgung digunakan, harus didiamkan hingga layu.

Proses selanjutnya adalah blabagi, proses ini adalah proses untuk membuat ayaman dasar. Pada proses inilah pelik dan bubuh mulai diterapkan. Untuk membuat cething atau cepon, jika menggunakan bubuhan lima itu dibutuhkan 60 buah ayaran, dan 40 buah anakan, sedangkan kalau menggunakan bubuhan enem, dibutuhkan 72 buah anyaran dan 48 buah anakan. Anakan adalah proses yang dilakukan setelah di buconi. Anakan ini bertujuan agar cething bisa berbentuk kerucut.

Setelah cething sudah terbentuk, proses selanjutnya adalah wudul yaitu memberikan wengkon yang kemudian dilanjutkan dengan proses nguniri dan nutus. Nguniri disini adalah memberikan warna kuning pada wengkon dengan cara diolesi dengan kunyit, sementara nutus adalah memberi ikatan pada wengkon agar tidak mudah lepas.

Di grumbul Girsalam tali yang dipergunakan untuk nutus disebut dengan ata, yaitu sebuah tanaman mirip rotan tapi berukuran kecil yang banyak tumbuh liar di sebagian hutan yang ada di lereng Gunung Slamet. Untuk mendapatkan ata, penduduk sekitar biasanya membeli di pasar Ajibarang.

Proses selanjutnya yaitu disikili yaitu memberi bilah bambu berbentuk bujursangkar pada bagian bawah anyaman. Selain mempercantik penampilan, juga berfungsi agar cething atau cepon tidak mudah kotor saat diletakan.

Untuk bahan bakunya, para perajin setempat biasanya membeli bambu dari desa tetangga. Satu batang bambu bisa dibuat menjadi lima cething, dan tiga cepon yang dijual dengan harga tujuh ribu rupiah untuk cething dan sepuluh ribu rupiah untuk cephon.

"Ya jenenge penguripan, arepa regane murah tetep bae digawe, (ya namanya saja penghidupan, meskipun harganya murah tetap saja dibikin)," ucap Duljalal.

Bagi masyarakat Grumbul Girsalam, membuat anyaman bambu memang bukan sekedar untuk mencari penghasilan, tapi juga sebagai bentuk melestarikan warisan leluhur. Kendati harus bersaing dengan produk pabrikan, mengingat perkembangan zaman sudah merangsek hingga ke dapurnya masyarakat pedesaan.//ipung