Sabtu, 12 Mei 2018 - 14:45:53 WIB
Persiapan Menjelang Perlon Unggahan Bonokeling
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 46 kali

Menjelang dilaksanakannya Tradisi atau perlon Unggahan, masyarakat di Desa Cagar Budaya Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas tampak sibuk oleh hiruk pikuk ratusan manusia. Seluruh sudut desa riuh ramai layaknya menggelar sebuah hajatan agung, Kamis (10 Mei 2018) lalu.

Beberapa persiapan pun dilakukan oleh masyarakat Pekuncen untuk menyambut kedatangan anak-putu penganut ajaran Bonokeling dari berbagai wilayah di sekitar Banyumas dan Cilacap yang hendak menjalankan Ritual Unggahan.

Bagi kaum laki-laki, mereka akan mempersiapkan berbagai macam alat tradisional yang akan dipergunakan sebagai sarana ritual, salah satunya adalah dengan membuat Sleman yaitu sebuah wadah yang terbuat dari anyaman janur kuning sebagai tempat sesaji (sajen). Penggunaan Sleman sebagai salah satu sarana perlon sudah dijalani oleh masyarakat penganut ajaran Bonokeling sejak ratusan tahun silam.

Menurut penuturan salah satu sesepuh setempat, Sleman memiliki fungsi penting disetiap acara perlon Unggahan. Sleman yang mempuyai arti Srono Lengketing Iman yaitu sebuah bentuk manembahing manungso marang Gustine, yang akan selalu dipegang teguh oleh masyarakat penganut ajaran Bonokeling sebagai pegangan laku hidup kepada sesama, kepada leluhur dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara bagi kaum perempuan, mereka sibuk memasak aneka macam makanan untuk disuguhkan kepada para tamu (kanca medang). Bagi masyarakat Bonokeling, masing-masing kepala keluarga diwajibkan untuk membuat makanan suguhan. Makanan yang mereka buat itupun kemudian dibawa kediaman Bedogol (pembantu juru kunci) tempat dimana para tamu akan beristirahat dan menginap.

Dalam tradisi Bonokeling, perlon Unggahan merupakan sebuah ritual tahunan dalam menyambut bulan suci ramadhan. Pada prosesinya, perlon ini masih menjunjung tinggi kearifan lokal sebagai upaya melestarikan tradisi turun temurun warisan leluhur yang digelar setiap hari Jum’at terakhir pada bulan Ruwah (Syaban), acara ini dipusatkan di makam Bonokeling.//ipung