Kamis, 19 April 2018 - 18:21:37 WIB
Melestarikan Jemblung Banyumasan
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Berita Kota - Dibaca: 158 kali

Banyumas - Pementasan jemblung ini dalam rangka memperingati Hari Kartini yang jatuh pada 21 April. Disamping itu, pagelaran ini juga sebagai bahan penelitian tugas akhir mahasiswa Unes Semarang, dan HUT Tabloid Pamor ke 10 tahun.

Hal itu disampaikan penggagas pementasan kesenian jemblung, Agung Wicaksono saat menggelar press release di Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Kamis (19 April 2018).

“Rencananya pementasaan akan digelar di Pendapa Kecamatan Sokaraja, Sabtu (21 April 2018) malam mendatang,” ujarnya.

Dijelaskan Agung, pementasan jemblung kontemporer dengan lakon olih dewandaru akan dipadukan dengan kesenian lengger dan calung Banyumasan. “Jemblung yang ditampilkan nantinya dikemas sesuai dengan era kekinian namun tidak terlepas dari pakem,” tutur Agung.

Bagi Agung, tema lakon olih dewandaru itu melambangkan tentang keberkahan. Jadi semua yang menonton, pemain jemblung, masyarakat Banyumas dan mahasiswa yang sedang mengadakan penelitian mendapatkan berkah. “Semoga dengan adanya acara ini semuanya memperoleh keberkahan,” ungkapnya.

Agung juga menegaskan pementasan jemblung ini murni dalam rangka memperingati Hari Kartini, bahan penelitian tugas akhir mahasiswa Unes Semarang, dan HUT Tabloid Pamor ke 10 tahun. “Tidak ada hubungan dengannya salah satu kandidat pilkada. Ini murni melestarikan kesenian bukan untuk ajang kampanye bagi kontestasi pilkada,” ungkapnya.

Sebagai masyarakat asli Banyumas, Agung merasa memiliki tanggung jawab untuk melestarikan dan menghidupkan kembali kesenian warisan leluhur agar tidak hilang dan tertinggal oleh perkembangan zaman di era yang serba kekinian.

Menanggapi pementasan jemblung tersebut, Camat Sokaraja, Purjito mengungkapkan, pihaknya sangat mendukung dengan adanya pagelaran jemblung yang dipentaskan di Pendapa Kecamatan Sokaraja dalam rangka memperingati Hari Kartini, “Tentu ini sebuah keberkahan dan kehormatan bagi kami,” ungkapnya.

Menurut Purjito, kesenian jemblung ini merupakan kesenian asli Banyumas yang sejarahnya berkaitan erat dengan Kadipaten Sokaraja. Sehingga pada pementasan yang akan datang dapat menjadi semangat baru bagi pegiat seni jemblung.

“Pementasan jemblung kontemporer ini bisa memberikan referensi baru bagi generasi yang sedang mencari jati diri. Bisa membandingkan kesenian Banyumas yang adiluhung dengan kesenian lain,” tuturnya.

Purjito berharap dalam pemetasan jemblungi ini, tersirat pesan moral yang disampaikan kepada masyarakat untuk kembali kepada jati diri sebagai masyarakat Banyumas yang cablaka.

Pementasan jemblung dengan konsep kekinian tidak hanya mendapat dukungan dari Camat Sokaraja. Budayawan Banyumas, Titut Edi  Purwanto (Cowongsewu) juga sangat mengapresiasi acara tersebut.

Menurut Titut, pementasan ini mengingatkan pengalaman yang pernah ia jalani saat membantu Mahasiswa Unes membuat sebuah karya untuk skripsi Tari Cowongan.

“Sementara tidak ada Tari Cowongan, karena saya merasa ingin ikut membantu, dimana ini sebuah karya, maka saya buat penelitian dan akhirnya sukses,” kenangnya.

Bagi Titut, pementasan ini merupakan pesan leluhur. Dimana leluhur sudah mati tetapi karya tidak pernah mati. “Ini kesenian jemblung. Jemblung seakan-akan sudah mati suri, ternyata ini akan hidup kembali dengan konsep yang lebih baik,” katanya.

Titut menegaskan dengan dikemas menggunakan konsep penelitian, maka kesenian jemblung akan lebih indah dan sarat dengan pesan moral jati diri masyarakat Banyumas. “Semoga pementasan ini bisa menghidupkan jemblung-jemblung yang sudah mati,” pungkasnya. //Wd