Selasa, 03 April 2018 - 14:44:28 WIB
Panembahan Kalipapag
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 267 kali

Kisah berawal dari kerajaan maritim di Nusakambangan dengan rajanya yang bernama Prabu Pule Bahas, saat itu sang raja berniat untuk meminang Dewi Ciptarasa dari Kadipaten Pasir Luhur. Diutuslah patihnya untuk datang melamar dan disertai ancaman perang apabila pinangannya ditolak. Atas saran dan permintaan Raden Kamandaka pinangan itupun diterima. Namun, ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi dan salah satunya adalah "Papag" (pertemuan), dan pada prosesi Papag tersebut sang dewi minta ditemani seekor lutung yang tidak lain adalah jelmaan dari Raden Kamandaka (Lutung Kasarung).   

Tempat pertemuan antara pihak Pule Bahas dengan Dewi Ciptarasa inilah yang kemudian dikenal dengan nama  Panembahan "Kalipapag". Bertempat di Desa Jatisaba, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Panembahan Kalipapag berada di sisi jalan utama desa dan bersebelahan dengan area persawahan. Jumat (30 Maret 2018) lalu, bersama Dasih (50) juru rawat panembahan PAMOR mengunjungi tempat tersebut. Panembahan Kalipapag ditandai dengan keberadaan tonggak pohon ansana keling. Sementara tidak jauh dari lokasi terdapat tiga buah makam yang satu diantaranya diyakini sebagai makam senopati perang Raden Kamandaka.

Dinamakan Kalipapag karena konon daerah tersebut bersebelahan dengan sebuah sungai besar, namun seiring berjalannya waktu sungai tersebut menciut dan tertutup menjadi area persawahan.

"Yen menurut critane wong-wong gemiyen gon sawah iki kali gede, merga dipapage nang kene mulane diarani kali papag, (kalau menurut orang-orang dahulu di sawah ini ada sungai besar, karena disini buat mapag atau menghadang makanya disebut Kalipapag)," jelas Dasih.

Ditempat inilah terjadinya peperangan antara Raden Kamandaka yang dibantu oleh balatentara dari Pajajaran dengan Prabu Pule Bahas, yang dimenangkan oleh Raden Kamandaka. Melihat rajanya berhasil dikalahkan dan gugur, para prajurit dan pengiring dari kerajaan Nusakambangan pun lari kocar-kacir, hingga beberapa barang bawaan banyak yang tercecer.

Menurut Dasih, dari kejadian peperangan inilah dibeberapa wilayah, banyak tempat yang dipercaya sebagai tempat jatuhnya barang bawaan Prabu Pule Bahas yang tercecer. Salah satunya adalah Padas Tinumpuk yang diyakini sebagai lembaran kain putih yang dibawa dari Nusakambangan untuk Dewi Ciptarasa.

Hal sama juga diungkapkan oleh Satam (60) salah satu sesepuh dari Grumbul Kalimiring, Desa Jatisaba yang mengatakan bahwa jalur yang dipakai Raden Kamandaka saat mapag (menghadang) Prabu Pule Bahas dari Tamansari melewati jalur Kalimiring hingga Kalipapag.

Menurutnya, gugurnya Prabu Pule Bahas oleh Raden Kamandaka saat itu mengakibatkan balatentara dan pengiringnya melarikan diri, konon mereka dikejar hingga ke Gunung Gripis masuk wilayah Kecamatan Purwojati.

"Yen dideleng nganggo mata batin, saben bulan maulid isih ana pasukan sing napak tilas, nang jalur kue, (dilihat dengan mata batin, setiap bulan Maulid masih ada prajurit yang napak tilas di jalur tersebut)," kata Satam. 

Hingga saat ini Panembahan Kalipapag masih ramai dikunjungi peziarah, terutama pada hari-hari tertentu. Pengunjung tidak hanya dari wilayah Banyumas tetapi juga dari beberapa kota besar lainnya.//ipung