Sabtu, 17 Maret 2018 - 12:27:31 WIB
Kebo Ijo Di Bani Rasul
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 417 kali

Berawal dari keprihatinan Mbah Zaen pada tempat pembuatan biogas yang dibangun oleh Dinas Lingkungan Hidup Banyumas yang sudah lama terbengkalai. Tempat pengolahan sampah menjadi biogas tersebut letaknya berhadapan dengan pondok pesanatren asuhannya, sehingga wajar bagi kyai sepuh seperti Mbah Zaen akan tersentuh untuk memfungsikan kembali apa yang sudah dibuat oleh Dinas Lingkungan Hidup agar bermanfaat. Namun, upaya itu tidaklah mudah terutama terkait dengan bahan baku utamanya yaitu SAMPAH yang sebenarnya dibuang tetapi untuk mengambilnya membutuhkan surat ijin dari Pemkab.

Upaya menghidupkan pengolahan biogas sebenarnya tidak hanya terganjal oleh perijinan saja, ada satu hal yang lebih mendasar lagi bagi Mbah Zaen dari sekedar perijinan. Tidak lain adalah menjaga perasaan semua karena awal dibangunnya tempat itu adalah bantuan untuk masyarakat dari Pemkab melalui Dinas Lingkungan Hidup. Tidak bermaksud untuk menguasai, hanya sekedar memfungsikan kembali pengolahan biogas agar bermanfaat. Upaya itupun membutuhkan kerja keras dan ketekunan yang berkesinambungan, mengingat hal itu Mbah Zaen pun mencontohkan dalam peribahasa Jawa "Sepi ing pamrih, ramai ing gawe" (tidak mengharapakan pamrih, giat dalam bekerja). Sebab itulah peran pondok pesantren dirasa tepat untuk mengambil bagian dari pengolahan biogas tersebut.

Bahkan dengan kerendahan hatinya demi menjaga segalanya, Mbah Zaen pun memberikan sebuah kiasan melalui cerita. Kepada PAMOR, Kamis (15 Maret 2018) lalu. Sembari menikmati secangkir kopi, Mbah Zaen bercerita tentang kisah polemik antara penggembala sapi dengan penunggang kuda hingga ke meja hijau.

Diceritakan bahwa pada suatu ketika, sang penggembala sapi bermaksud ingin memandikan induk sapi dan anaknya di sungai, dan disaat yang bersamaan datanglah si penunggang kuda yang juga hendak memandikan kudanya. Dari sinilah persoalan itu muncul setelah keduanya selesai memandikan ternaknya, entah kenapa si anak sapi tidak mengikuti induknya malah ikut kuda. Atas kejadian itu munculah niat sang pemilik kuda untuk memiliki anak sapi tersebut. Tentunya hal itu tidak bisa diterima oleh pemilik sapi, keributan pun terjadi dan bergulir hingga ke meja hijau.

Si penunggang kuda berusaha memenangkan putusan dengan cara menyuap hakim dan jaksa, hal itu juga diketahui oleh si penggembala sapi dan pengacaranya. Singkat cerita pada saat berlangsungnya sidang hakim memberikan waktu kepada pengacara untuk membacakan tuntutan, si pengacara menolak karena sedang datang bulan sehingga tidak bisa berargunemtasi. Mendengar alasan itu, hakim dan seluruh peserta sidang pun kaget dan menyangkal kalau itu tidak mungkin, karena si pengacara laki-laki. Karena hakim menyangkal, pengacara pun membalas dengan ucapan "Kalau begitu berarti sama, mana mungkin kuda punya anak sapi". Berkat kecerdasan sang pengacara inilah, akhirnya sang pemilik kuda menyadari kesalahannya dan mengembalikan anak sapi kepada penggembalanya.

Demikianlah Mbah Zaen, yang sebenarnya hanya ingin menghidupkan kembali pengolahan biogas agar bermanfaat tetapi tidak merugikan siapapun.

"Waktu itu saya prihatin melihat pengolahan biogas terbengkalai, makanya saya menyuruh salah satu santri, untuk menghadap bupati dengan maksud meminta supaya pengolahan limbah tersebut dikelola kembali, dan ternyata malah bupati menurunkan SK, bahwa pengelolaan biogas diserahkan ke Ponpes Bani Rasul," jelas Mbah Zaen.

Pengolahan biogas yang diberi nama "Kebo Ijo" saat ini sepenuhnya dikelola oleh Pondok Pesantren Bani Rasul yang diasuh oleh Mbah Zaen panggilan akrab KH.R. Zaenurrohman Al-Hafidz, Kyai sepuh kelahiran Jepara 1937 juga dikenal gemar mendongeng. Ponpes Bani Rasul beralamat di Jl. Raji Musthofa, Grumbul Gubuk Sekuping, Desa Bantarsoka, Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas. Nama Kebo Ijo menurut Mbah Zaen tidak ada kaitannya dengan cerita kebo ijo dalam kisah Ken Arok - Tunggul Ametung.

Kebo Ijo disini tidak lain adalah semangat dan kerja keras untuk menghidupkan kembali pengolahan biogas. Kepedulian Mbah Zaen tentang kelestarian alam dan lingkungan inilah yang mendorongnya untuk mengelola sampah, bahkan tidak segan-segan Mbah Zaen turun sendiri memungut sampah-sampah untuk dikelola sebagai sumber energi biogas. Meskipun secara ekonomis, Kebo Ijo belum bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan pondok pesantren tetapi hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk memaksimalkan produksi energi biogas agar bisa bermanfaat bagi masyarakat banyak.

"Mulane dongakne bae muga-muga kebone bisa manak pedet, dadi mengko kotorane bisa dienggo ngisi kebo ijo, (Doakan saja, semoga kerbaunya bisa beranak sapi, dan nanti kotorannya bisa untuk mengisi Kebo Ijo)," pungkasnya.

Selain kebo ijo di Pondok Pesantren Bani Rasul juga ada istilah "Buang runtaeh inyong" yang biasa dilakukan oleh para santri.//ipung