Senin, 12 Maret 2018 - 15:59:18 WIB
Kisah Mbah Nakem Yang Hidup Dengan Alam
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 373 kali

Wong urip kue wenang nandur, ning ora wenang ngunduh adalah pedoman hidup Mbah Nakem (85) dan Mbah Darto (90) warga Dusun Karanggondang, Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Banyumas, yang sudah puluhan tahun hidup dan tinggal di area hutan di kaki Gunung Slamet.

Bernaung di gubuk kayu dan beratapkan terpal, hari-hari Mbah Nakem pun dilalui dengan bersahaja. Bermacam jenis tanaman mulai dari kapulaga, sayuran yang ada di sekeliling gubuk menjadi gantungan hidup, sementara suaminya, Mbah Darto selain turut membatu bertani, juga mencari tambahan sebagai penjual alat-alat pertanian.

"Ya kaya kie kahanane, sing penting ora ngrepoti anak putu, (ya seperti ini kondisinya, yang penting tidak merepotkan anak, cucu)," ucap Mbah Nakem saat ditemui PAMOR di gubug kediamannya, Rabu (28 Februari 2018) lalu.

Menurutnya, hidup dan tinggal di kawasan hutan sudah dijalani sejak masih kecil. Bersama sang ibu yang akrab disapa Nini Ruwab, Mbah Nakem kecil sudah biasa diajak bercocok tanam tumpang sari di bukit Sudem, salah satu kawasan milik perhutani.

"Ndisit cilikane nyong biasa urip nang sudem, malah sering urip nang kana timbang nang desa, (Dahulu masa kecilnya saya sudah biasa hidup di bukit Sudem, Bahkan sering tinggal disana ketimbang di desa)," tuturnya bercerita.

Banyak kisah menarik yang diceritakan Mbah Nakem dalam bertahan hidup di hutan, salah satunya adalah ketika terjadinya pemberontakan DI/TII, dimana para laskar pemberontak terdesak dan sembunyi di lereng Gunung Slamet. Lahan pertanian tempat menggantungkan hidup pun dijarah, dan kondisi tersebut memaksanya untuk turun ke desa.

Setelah laskar DI/TII berhasil ditumpas, Mbah Nakem pun kembali menggarap lahan perhutani, namun bukan kembali ke bukit Sudem melainkan ke bukit Bunder yang lokasinya tidak jauh dari Curug Cipendok, disana Mbah Nakem menjalani hidup seperti biasa, selain bercocok tanam tumpang sari, mencari jamur di hutan menjadi kegiatan sambilan.

"Kawit alas duwur Cipendok isih ditanduri penjalin, nganti diganti tanduran damar, ya semana kuwe suwene, (sejak hutan di kawasan Curug Cipendok masih berupa tanaman rotan, sampai diganti dengan pohon damar, ya selama itu saya tinggal disana)," jelasnya.

Selama hidup di hutan, Mbah Nakem selalu berpindah2 tempat. Sembari mencari jamur, Mbah Nakem juga mencari lahan yang layak untuk digarap dan ditanami. Dan jika lokasinya jauh dari tempat iya tinggal, biasanya Mba Nakem mendirikan gubuk untuk menginap.

Setelah beberapa tahun, Mbah Nakem yang pada waktu itu hidup menjanda, menikah dan hidup menetap di kaki Bukit Bunder dengan Mah Darto. Waktu itu bertepatan dengan proyek Perhutani yang mengganti hutan rotan dengan damar. Pada saat itu banyak masyarakat sekitar yang ikut bekerja sebagai buruh di perhutani, begitu pula dengan Mbah Nakem dan Mbah Darto.

Konon pada saat itu salah satu mantri perhutani menawarkan pilihan ke mereka berdua, yaitu turut menjaga dan mengolah lahan perhutani atau hanya sekedar buruh harian menanam pohon damar. Pada saat itu Mbah Nakem memilih ikut merawat dan menggarap lahan perhutani.

Hidup menetap di bikit bunder dilalui Mbah Nakem dari tahun 1976 hingga 2001. Dan setelah  pohon damar sudah besar dan tidak memungkinkan lagi untuk digarap, Mbah Nakem dan Mbah Darto pun pindah di salah satu hutan yang tidak jauh dari kampung halamannya. Ditempat inilah Mbah Nakem dan Mbah Darto tinggal dan bercocok tanam.

Perjalanan hidup bergantung dengan hutan terus dilaluinya, tak jarang pula bujukan sang anak yang mengajak untuk pulang dan tinggal di desa, selalu ia tolak.

"Ya kepiwe maning, wong wis betah urip nang kene, (ya gimana lagi, sudah betah tinggal di sini)," timpal Mbah Darto.//ipung