Jumat, 09 Maret 2018 - 19:12:45 WIB
Dinamika Kehidupan Nelayan Tradisonal Cilacap
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 467 kali

 

Cilacap - Dinamika kehidupan para nelayaan tradisional Cilacap tidak terlepas dari musim angin laut saat melaut. Sejak memasuki awal tahun 2018, nelayan tradisional Cilacap merasakan musim paceklik (paila). Musim paceklik atau paila ini, dipengaruhi oleh musim angin daya yang sedang terjadi di wilayah perairan Cilacap.

Biasanya di musim angin daya ini angin bertiup kencang dan gelombang juga besar, sehingga berpengaruh dengan hasil tangkapan. Hasil tangkapan pun mengalami penurunan berbeda dengan musim angin timur. Penurunan hasil tangkapan dirasakan semua nelayan tradisonal, salah satunya nelayan tradisonal jaring payang.

Saat ditemui di Dermaga 3 Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, Jumat (09 Maret 2018), salah satu nelayan jaring payang, Cakra (58), menuturkan, saat ini sudah memasuki musim paila. Hasil tangkapan yang didapat mengalami penurunan. Berbeda dengan musim angin timur. “Hasilnya hanya cukup untuk operasional saja,” tutur warga Bon Baru, RT 07, RW 01, Kelurahan Cilacap, kecamatan Cillacap Selatan, Cilacap.

Bagi Cakra yang sudah 45 tahun mengeluti manis getirnya menjadi nelayan, tidak merasa heran jika hasil tangkapan mengalami penurunan akibat musim daya. Menurutnya setiap tahun musim paila pasti terjadi. Bahkan di tahun 2016, ia tidak melaut selama satu tahun lantaran hasil yang didapat tidak menutup biaya operasional karena sedang dilanda musim paila.

“Hasil yang didapat tidak sesuai dengan biaya operasional. Hanya cukup untuk uang lelah ABK yang melaut. Daripada merugi, ya istirahat melaut,” kenangnya.

Untuk hasil saat ini, Cakra menilai masih lumayan, meskipun hasil yang didapat tidak begitu melimpah namun masih bisa menutup biaya operasional. “Lumayan untuk bertahan hidup. Mau bagaimana lagi, lah musim lagi begini. Yang penting usaha, selama masih bisa nutup biaya operasional,” tutur Cakra yang sudah pernah mengalami melaut dengan mendayung tanpa menggunakan mesin perahu.

Menurutnya jaman sekarang musimnya terbalik. Dulu ketika musim timur nelayan jarang melaut karena kesulitan melaut saat mendayung. Tapi sekarang justru angin timur, hasil yang didapat sangat berlimpah. “Yah wolak waliki jaman,” katanya.

Cakra sangat memahami pergantian musim angin laut. Musim angin timur terjadi antara bulan Agustus, September hingga bulan Desember. Di bulan itu biasanya nelayan mendapat hasil yang cukup melimpah. Di bulan Januari hingga Maret hasil yang didapat  biasanya mengalami penurunan, selepas itu mengalami musim paila hingga bulan Juli. “Semoga musim paila ini tidak seperti di tahun 2016 lalu, sehingga bisa bertahan hingga musim angin timur,” jelasnya. //Wd.