Senin, 26 Februari 2018 - 12:11:48 WIB
Dewadaru Dalam Cerita Wayang Gagrag Banyumasan
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 272 kali

Alkisah, Dewa Yamadipati yang bertugas sebagai dewa pencabut nyawa mendapat perintah dari Batara Guru untuk mencabut nyawa Raden Gatotkaca, namun ditengah perjalanan, Yamadipati dihadang oleh Lingsanggeni yang menanyakan daun Klepu Dewandaru sebagai tanda kalau Gatotkaca sudah waktunya gugur. Karena tidak bisa menunjukan tanda daun Klepu Dewadaru, Lingsang Geni pun menghalangi hingga terjadilah peperangan, dan Yamadipati yang kalah pun akhirnya kembali ke Nusa Mangempeng.

Sepenggal kisah tentang kegunaan pohon Dewadaru (Klepu Dewadaru) yang menjadi lambang kematian dalam cerita wayang gagrag Banyumasan pada lakon Gatotkaca Nagih Janji, seperti yang diceritakan Kidalang Citut Turmanto asal Desa Bangsa, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas.

Yamadipati akan mencabut nyawa siapa saja setelah salah satu atau beberapa daun pohon Dewadaru runtuh. Sisi daun yang runtuh itu setelah dipegang Yamadipati akan tertera nama ksatria yang harus dicabut nyawanya.

Menurutnya, jika Yamadipati sudah mengetahui kesatria mana yang harus diambil nyawanya, di dalam cerita pagelaran secara kebetulan tokoh tersebut juga sedang berperang dan kalah, disitulah kesempatan Yamadipati untuk menjalankan tugasnya.

Dalam cerita wayang gagrag Banyumasan, Yamadipati menjadi dewa yang terpaksa harus menuruti perintah Batara Guru untuk mencabut nyawa skatria, meskipun tidak memegang tanda daun Klepu Dewadaru. Karena untuk kepentingan pribagi Batara Guru, tugas Yamadipati pun selalu digagalkan oleh Lingsang Geni.

Pohon Dewadaru ternyata bukan hanya sebagai tanda kematian dalam cerita wayang gagrag Banyumasan. Oleh sebagian besar masyarakat Jawa, pohon Dewadaru juga dinyakini bertuah dan mengandung kesaktian. Maka tidak heran kalau pohon ini banyak diburu. Selain tumbuh di Karimunjawa pohon Dewadaru juga diyakini tumbuh di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap.//ipung