Sabtu, 24 Februari 2018 - 14:55:27 WIB
Pertanda Tumbangnya Pohon Beringin di Alun-alun Purwokerto
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 1193 kali

Pohon beringin di alun- alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas Sabtu dini hari tumbang, beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut meski sempat membuat panik ratusan masyarakat yang tengah menyaksikan pagelaran wayang kulit.

Robohnya pohon beringin di alun-alun ini adalah sebuah pertanda atau peringatan kepada masyarakat Banyumas untuk kembali menjalankan tradisinya, menurut K.P.PANJI Hargo Kusumo Yatmantodiningrat, Ketua Umum Paguyuban Kerabat Mataram (PAKEM) Pusat saat ditemui PAMOR dikediamannya, Sabtu (24 Februari 2018).

Jika dilihat dari kacamata budaya, pohon beringin yang tumbuh di alun-alun itu bisa diartikan sebagai simbol yang memiliki fungsi dan arti sendiri-sendiri. Pohon beringin yang tumbuh di tengah alun-alun (ringin kurung) adalah simbol pemimpin atau pengayom, sedangkan yang di pinggir dilambangkan sebagai rakyat.

Menurutnya, robohnya pohon yang tanpa sebab dan bertepatan dengan pagelaran wayang kulit dalam peringatan hari jadi Kabupaten Banyumas ini juga berkaitan erat dengan sejarah keberadaan salah satu saka yang ada di Pendopo Sipanji yang saat ini sudah tidak lagi di hormati kesakralannya yaitu tradisi memberi sesaji. Padahal didalam tradisi itu ada nilai sejarahnya.

Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi budaya tentunya kita selalu menjaga dan menjalankan tradisi, begitu juga dengan tradisi memberi sesaji di saka Sipanji, karena dengan menjalankan tradisi itu kita tidak hanya menghormati saja tapi juga meneruskan amanah.

"Dipkir secara nalar mana ada pendahulu kita yang punya keinginan jelek, pastinya keinginan luhur kan, begitu juga dengan pendopo Banyumas yang dibangun karena sebuah keiginan yang mulia," jelas Kanjeng Yatmanto.

Maka dari itu selain sebagai pertanda buat masyarakat, kejadian ini juga sebagai perintah untuk para calon bupati yang sama-sama ingin memimpin Banyumas untuk yang kedua kalinya, "Yen pengin dadi ya kudu wani nguripke tradisi, yen ora wani, ya siap-siap bae ambruk".//ipung