Jumat, 23 Februari 2018 - 17:10:35 WIB
Musim Angin Daya, Aktivitas Lelang di TPI Tegalkatilayu Menurun
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 408 kali

Cilacap - Sejak memasuki awal tahun 2018, nelayan tradisional Cilacap merasakan musim paceklik (paila). Musim paceklik atau paila ini, dipengaruhi oleh musim angin daya yang sedang terjadi di wilayah perairan Cilacap.

Kondisi musim paceklik atau paila karena angin daya tidak saja berdampak dengan roda perekonomian bagi nelayan tradisional. Musim angin daya ini, juga berpengaruh dengan penurunan aktivitas lelang di beberapa Tempat Pelelangan Ikan (TPI), salah satunya di TPI Tegalkatilayu yang berada di Kelurahan Tegalkamulyan, Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap.

Saat di temui Pamor, Pembantu Umum TPI Tegalkatilayu, Subardi (40) membenarkan musim paceklik atau paila yang sedang dialami nelayan tradisional, menurutnya musim paceklik saat ini dipengaruhi oleh alam yakni musim angin daya.

“Musim angin daya terjadi sejak awal tahun ini. Biasanya di musim ini angin bertiup kencang dan gelombang juga besar, sehingga berpengaruh dengan hasil tangkapan. Hasil tangkapan mengalami penurunan berbeda dengan musim angin timur,” tuturnya, Kamis (22 Febuari 2018).

Dengan penurunan hasil tangkapan, berdampak juga terhadap aktivitas lelang di TPI Tegalkatilayu. Hal ini disebabkan perahu yang berangkat melaut jumlahnya berkurang, sehingga hasil produksi yang dilelang mengalami penurunan.

“Jika sedang ramai hasil, nelayan yang berangkat melaut sekitar 230 perahu per harinya. Sekarang yang melaut hanya 14 hingga 21 perahu, karena hasilnya tidak sebanding dengan biaya operasinal,” ungkap Subardi.

Tidak hanya jumlah perahu yang berkurang. Hasil produksi yang dilelang pun mengalami penurunan secara dratis. Sebelumnya ketika musim angin timur hasil tangkapan yang dilelang di TPI Tegalkatilayu seperti udang rebon ampas, udang badak, udang dogol, dan udang krosok sangat berlimpah.

“Hasil produksi yang dilelang sekitar Rp 150 juta bahkan lebih setiap harinya. Sejak musim angin daya, hasil produksi yang dilelang hanya sekitar Rp 3 juta lebih per hari,” ungkapnya.

Diakui Subardi, memang ada penurunan dari hasil produksi di musim angin daya ini. Namun dari sisi harga hasil produksi ada peningkatan. Dia mencontohkan harga udang badak sebelumnya Rp 12 ribu per kilo, saat ini harganya sekitar Rp 22 ribu per kilo. Udang rebon ampas sebelumnya Rp 4 ribu perkilo, sekarang sekitar Rp 7 ribu per kilo. Udang krosok sebelumnya Rp 20 ribu per kilo kini harganya sekitar Rp 27 ribu per kilo dan udang dogol sekitar Rp 70 ribu per kilo.

Hal serupa juga diungkapkan salah satu nelayan tradisonal jaring arad, Raswan Sanmardi (52), sejak awal tahun 2018, nelayan merasakan dampak musim angin daya. Ketka melaut hasil yang didapat mengalami penurunan.

“Lagi musim paceklik. Hasil yang didapat sekarang ini sedikit, berbeda dengan musim angin timur. Yah musimnya kan angin daya, ya dapatnya hanya segitu. Udang badak paling sekitar 9 kilo, rebon ampas 1.5 kilo dan udang dogol sekitar 1.5 kilo,” ungkap Raswan warga Gumilir Kaliyasa, sembari menunjukan hasil melautnya.

Meskipun saat ini sedang mengalami musim paceklik, tidak membuat Raswan menghentikan aktivitasnya untuk terus melaut. Dia bersama dengan rekannya tetap melaut agar roda perekonomian keluarga mereka terus berputar. “Rejeki sudah ada yang mengatur. Disyukuri saja yang terpenting usaha terus,” tuturnya. //Wd.