Minggu, 07 Agustus 2011 - 15:54:41 WIB
Ruwatan - Melepaskan Diri dari Keruwetan & Kesusahan
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Tradisi - Dibaca: 18876 kali

Pagelaran wayang kulit berkembang pesat di Indonesia khususnya di pulau Jawa, yang dimulai sejak jaman Wali Sembilan. Pertama kali diperkenalkan oleh salah satu Wali Sembilan yaitu Sunan Kali Jaga, sebagai sarana penyebaran agama Islam. Menurut Ki Dalang Ngabehi Sutiman Prasetyo Hadi Suwito. Wayang, asal kata dari wajib sembahyang kemudian disingkat menjadi wayang.

 "Pagelaran Wayang kulit tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, juga sebagai sarana ruwatan yaitu ritual untuk melepaskan diri dari keruwetan dan kesusahan," tuturnya. "Ruatan, menurut tradisi orang Jawa dimaksudkan untuk ngudari ruwet rentek (melepas keruwetan dan kesusahan ), mberat sukerto (membuang sial)," lanjutnya. Orang yang masuk dalam hitungan, Kekandangan, Pepujaran, dan Ilo-ilo, juga mesti diruwat.
Yang masuk dalam hitungan Kekandangan antara lain
1. Pendawa Lima yaitu mempunyai lima anak, laki-laki semua.
2. Pendawi Lima yaitu mempunyai lima anak, perempuan semua. 3.Ting-ting kebanting yaitu mempunyai satu anak, laki-laki.
4. Ontang-anting yaitu mempunyai satu anak, perempuan.
5. Kedono-kedini yaitu mempunyai dua anak, laki-laki dan perempuan.
6. Sendang kapir pancuran yaitu mempunyai tiga anak yang urutannya, perempuan laki-laki, perempuan.
7. Pancuran kapit sendang yaitu mempunyai tiga anak yang urutannya, laki-laki perempuan, laki-laki.
8. Uger-uger lawang yaitu mempunyai dua anak, laki-laki semua.
9. Kembang sepasang yaitu mempunyai dua anak, perempuan semua.

Sedangkan yang masuk dalam hitungan Pepujaran adalah orang yang lahir pada hari Selasa Kliwon dan Selasa Wage. Ilo-ilo adalah orang yang meninggal karena terkena musibah dan bunuh diri. Sebelum menjalankan ruwatan, Ki Dalang terlebih dahulu melakukan ritual pembersihan diri, supaya ruwatannya tidak mengalami banyak kendala. Ruwatan bisa dilakukan dengan cara sederhana, cukup dengan sesaji dan beberapa wayang tanpa diiringi gamelan.
Lakon Purwo kolo yang biasa digelar saat acara ruwatan, cerita lahirnya Betara Kala. Purwo kolo, lahirnya Betara kala, merupakan buah dari kisah asmara Betara Guru dengan Dewi Uma. Terjadi pada saat Betara Guru dan Dewi Uma naik ke Kerbau Andini terbang di atas Samudera. Betara Guru meminta kepada Dewi Uma untuk melakukan slapa tarune jalu lan estri (hubungan suami istri). Namun, permintaan Betara Guru di tolak oleh Dewi Uma. Karena tidak bisa menahan nafsu birahi tanpa disengaja kumo (benih) keluar dari Betara Guru dan jatuh ke dalam Samudera. Jatuhnya kumo kedalam Samudera, lalu hidup dan tumbuh besar dengan wujut Raksasa yang bernama Kumo Salah. Raksasa kumo Salah, membahayakan penghuni bumi, karena yang jadi mangsanya adalah manusia.
Keresahan di bumi karena Kumo Salah mengundang perhatian para Dewa di khayangan, mereka pun menelusuri asal usulnya. Hingga suatu ketika Kumo Salah pergi kekayangan, para dewa tidak sanggup menghentikannya. Kumo Salah bermaksud mencari bapaknya yaitu Betara Guru. Oleh Betara Guru, Kumo Salah diakui dan diberi nama Betara Kala, dan diijinkan makan orang di bumi yang Nandang Sukerto yaitu orang yang masuk dalam hitungan Kekandangan, Pepujaran dan Ilo-ilo. Agar tidak menjadi mangsanya Kumo Salah, orang yang nandang sukerto dianjurkan untuk diruwat. Demikian cerita yang melatar belakangi tradisi ruwatan menggunakan pagelaran Wayang kulit. //ipung