Jumat, 16 Mei 2008 - 16:18:29 WIB
Pangeran Sambernyawa
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Sejarah - Dibaca: 27093 kali

 Di sebuah gubuk di perkampungan kecil, seorang Pangeran singgah untuk beristirahat. Kedekatannya dengan rakyat, membuat ia tak segan makan jenang katul (bubur bekatul) yang dihidangkan oleh Mbok Rondo penghuni  gubuk itu. Sementara, ratusan tentara kompeni mulai menyebar dan mengepung setiap sudut kampung tempat Pangeran itu singgah.

Ketika jenang katul masih panas, Sang Pangeran menyendoknya tepat di bagian tengah lalu memakannya, tentu saja terasa sangat panas..! "Duh pangeran kalau makan jenang katul itu jangan langsung di tengah, tapi dari pinggir dulu terus muter, jadi pas sampai tengah kan sudah dingin, "kata Mbok Rondo.

Pangeran tertegun, ia terus merenungi perkataan Mbok Rondo. Sementara, tentara kompeni semakin banyak yang mengepung kampung itu. Sang Pangeran pun bergegas meninggalkan gubuk, dengan pedang saktinya ia bergerak keluar dari kampung itu, untuk kemudian membabat habis tentara kompeni dengan arah melingkar seperti yang dianjurkan oleh Mbok Rondo sewaktu makan jenang katul.

Ternyata Pangeran bukan cuma sakti, tetapi juga cerdas. Ia tanggap pada setiap perkataan yang bermakna tanpa melihat siapa yang mengatakan. Walaupun, perkataan itu dari seorang rakyat miskin seperti Mbok Rondo. Tapi Pangeran mampu menjadikannya sebuah strategi perang yang andal. Kesaktian dan kepiawaian dalam berperang membuat lawan semakin gentar, ia selalu menjatuhkan banyak korban sehingga ia dijuluki Pangeran Sambernyawa.

Cerita tentang Pangeran Sambernyawa masih melekat di hati masyarakat Solo terutama di daerah pedesaan. Hingga kini, tempat-tempat yang dulu pernah di singgahi oleh Pangeran Sambernyawa masih kerap dikunjungi oleh peziarah terutama pada bulan Suro. Berikut sejarah Pangeran Sambernyawa menurut penuturan Mas Ngabehi Cipto Astono, penjaga dan perawat Astana Mangadeg. Masa perjuangan Pangeran Sambernyawa terus berlangsung selama 16 tahun.

"Beliau diasingkan oleh keluarga keraton yang waktu itu telah dikuasai oleh Hindia Belanda," tutur Mas Ngabehi. "Pangeran Sambernyawa yang mempunyai nama Raden Mas Said, keluar dari keraton dan berbaur dengan rakyat kecil untuk memimpin pasukan melawan Hindia Belanda," lanjutnya. Pangeran Sambernyawa dan pasukannya bergerilya sampai ke daerah Tawangmangu, Karanganyar. Kemudian bertemu dengan dua orang pertapa yang bernama Kyai Adi Roso dan Kyai Adi Sono di daerah Sumokaton. Oleh kedua pertapa itu, Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas Said disuruh pergi berdiam diri di Gunung Mangadeg untuk bertapa dan memohon petunjuk dari Sang Pencipta, yaitu Alloh SWT.

"Dalam pertapaannya di Gunung Mangadeg, Pangeran Sambernyawa mendapat barokah pusaka berupa samurai dan stambul. Setelah selesai dari pertapaannya, beliau bertemu dengan Ludono Warso yang kemudian diangkat menjadi patih saat Pangeran Sanbernyawa telah menjadi Raja Mangkunegaran I," kata Mas Ngabei. Pangeran Sambernyawa terus melanjutkan perjuangan melawan Hindia Belanda ke wilayah Wonogiri.

"Di sana beliau diangkat menjadi raja oleh para pengikutnya di Wonogiri. Namun, pengangkatan dan pembentukan kerajaan tersebut menemui banyak kendala, hingga beliau memutuskan untuk tidak menjadi raja dan membatalkan pembentukan kerajaan. "Pangeran Sambernyawa memilih melanjutkan perjuangannya melawan V.O.C Hindia Belanda sampai akhirnya berhasil memukul mundur dari bumi Mataram.

Setelah V.O.C Hindia Belanda mundur, pucuk pimpinan kerajaan Mataram kosong, maka diangkatlah raja baru bergelar Pakubuwono III bertempat di Kartosuro. Yang kemudian memanggil Pangeran Sambernyawa dan Pangeran Mangkubumi ke keraton untuk mengajak bersama-sama memperbaiki tatanan pemerintahan kerajaan, Mengingat pangeran Sambernyawa dan Pangeran Mangkubumi adalah keponakannya. Namun Pangeran Sambernyawa dan Pangeran Mangkubumi menolak permintaan tersebut, karena dilatarbelakangi rasa iri sebab Pakubuwono III tidak ikut dalam berjuang mengusir penjajah malah diangkat menjadi raja. Sedangkan Pangeran Sambernyawa yang berjuang melawan penjajah Hindia Belanda selama enam belas tahun tidak diangkat menjadi raja.

Pangeran Sambernyawa menolak untuk masuk kekeraton dan meminta kepada Pakubuwono III wilayah tanah jajahannya sendiri. Permintaan Pangeran Sambernyawa kemudian dikabulkan dan disetujui oleh Pakubuwono III, sehingga kerajaan Mataram dipecah menjadi tiga, yaitu kerajaan Surakarta dan Kerajaan Ngayogyakarta yang diperingati dengan perjanjian Giyanti, serta berdirinya keraton Mangkunegara dengan perjanjian Salatiga. Keraton Mangkunegaran dipegang oleh Pangeran Sambernyawa yang dinobatkan menjadi Raja Mangkunegara I pada tahun 1759 M, hingga beliau wafat pada tahun 1795 M.

Makam Pangeran Sambernyawa berada di Astana Mangadeg karena untuk mengingat kembali masa perjuangannya dalam mengusir penjajah Hindia Belanda selama enam belas tahun dan mendapatkan barokah dengan bertapa di Gunung Mangadeg. "Di Astana Mangadeg kini telah dibangun monumen yang diberi nama Monumen Tri Darma sebagai tanda tempat dulunya Pangeran Sambernyawa bertapa untuk mencari petunjuk pada Sang Pencipta dalam pengabdiannya pada Bumi Pertiwi," tuturnya. "Selain itu, untuk mengingat petunjuk kedua pertapa yaitu kyai Adi Sono dan kyai Adi Roso, di bangunlah gapura, bertuliskan nama kedua kyai tersebut." Lanjutnya.

Bangunan Astana Mangadeg saat ini terdiri dari tiga komplek bangunan, yaitu komplek makam Mangkunegaran I berserta keturunannya, Komlek makam keturunan Mangkunegaran II dan III, dan komplek makam dari beberapa keturunan yang lain. Pembangunannya diprakarsai oleh yayasan Mangadeg pada tahun 1970. //ipung